PSSI Fokus Penuh Persiapan Timnas U‑23 untuk SEA Games 2025

Jakarta — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) kini menegaskan bahwa seluruh perhatian organisasi tertuju pada ajang SEA Games 2025 yang akan digelar di Thailand pada Desember mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan oleh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, yang menegaskan bahwa “fokus dan energi kami tercurah penuh untuk mendukung Timnas U‑23.”

Vivin menyebut bahwa dengan status sebagai juara bertahan dari edisi sebelumnya, Timnas U‑23 Indonesia di bawah asuhan pelatih Indra Sjafri menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, PSSI mengatakan bahwa seluruh unit kerja federasi — mulai dari pengurus, pelatih, hingga pembinaan pemain muda — akan diarahkan untuk memaksimalkan persiapan menuju turnamen multi‑olahraga tersebut.

Meski demikian, dalam internal federasi juga terdapat pengakuan bahwa penetapan pelatih dan strategi jangka panjang untuk tim senior masih dalam proses pembahasan dan belum menjadi prioritas utama saat ini. Sebaliknya, tim muda dianggap sebagai momentum penting untuk menunjukkan taji sepak bola nasional di kancah regional.

Sejumlah tugas yang kini diprioritaskan PSSI antara lain: seleksi dan pelatihan intensif pemain U‑23, peningkatan jumlah uji coba internasional, serta percepatan administratif seperti persiapan logistik dan operasional tim. PSSI berharap bahwa dengan memusatkan energi secara eksklusif ke SEA Games, maka potensi juara dapat diwujudkan kembali dan menjadi tonggak kebangkitan sepak bola Indonesia.

Publik dan pengamat sepak bola kini menanti bagaimana strategi PSSI akan diuji dalam aksi di lapangan — apakah dengan fokus ini, federasi mampu menjawab ekspektasi, atau justru mengabaikan program jangka panjang yang kerap tertunda.

Timnas U-17 Indonesia Siap Buktikan Diri di Piala Dunia 2025

Jakarta — Setelah memastikan diri lolos ke Piala Dunia U‑17 2025, skuad Timnas U‑17 Indonesia kini menatap babak utama dengan tekad untuk “berbicara banyak” di panggung global. Asuhan pelatih Nova Arianto ini tidak sekadar ingin tampil, tetapi juga menunjukkan kapasitas kelompok usia muda Indonesia menghadapi kekuatan dunia.

Dalam proses pembinaan dan persiapan, tim muda ini telah melewati berbagai uji coba internasional yang sengaja dirancang untuk mengasah mental dan kemampuan menghadapi lawan tangguh. Ketua umum PSSI, Erick Thohir, pun memberi lampu hijau penuh, meminta para pemain menampilkan identitas bangsa di Qatar dan menjadikan ajang ini bukan sekadar pengalaman, tetapi batu loncatan.

Lolos ke Piala Dunia U-17 bukan hanya soal hadiah—itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa pembinaan usia muda di Indonesia mulai membuahkan hasil. Dengan format turnamen yang diperluas ke 48 tim, tekanan dan persaingan semakin tinggi. Meski demikian, Nova Arianto menegaskan bahwa aspek utama bukanlah hasil semata, melainkan bagaimana para pemain dapat berkembang, menikmati pengalaman, dan membawa nilai positif ke jenjang tim senior kelak.

Dengan demikian, Timnas U-17 Indonesia tidak hanya “ingin hadir”, melainkan siap “berbicara”—baik di lapangan dengan prestasi, maupun di ruang karir individu pemain yang bisa menembus liga-luar negeri. Momentum Piala Dunia U-17 2025 menjadi ujian sekaligus platform untuk masa depan sepak bola Indonesia.

Radja Nainggolan Kritik Tajam Roberto Martínez: Sebut Pelatih yang Buruk untuk Timnas Belgia

Mantan gelandang tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, melontarkan kritik keras terhadap kepelatihan Roberto Martínez, yang menurutnya menjadi salah satu faktor kegagalan generasi emas Belgia mencapai gelar besar.

Dalam wawancara terbaru, Nainggolan mengungkap bahwa ia merasa potensi tim Belgia yang diperkuat pemain-pemain top dunia — seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku — tidak mampu dieksekusi secara maksimal lantaran skema permainan yang ia anggap “hampa”. “Dia bukan pakar sepak bola, dia pelatih yang sangat buruk,” tegas Nainggolan.

Menurut Nainggolan, di bawah Martí­nez tim “Red Devils” kerap mengandalkan aksi individu pemain besar tanpa kerangka taktis yang jelas. “Tidak ada taktik atau strategi. Ketika kami dalam kesulitan, yang ada hanya umpan ke Hazard, atau ke De Bruyne, atau ke Lukaku. Tidak pernah ada gaya, tidak pernah ada taktik.”

Lebih lanjut, Nainggolan merasa bahwa kesempatan untuk memperkuat Timnas Indonesia akan memberinya penghargaan dan apresiasi yang ia rasakan tidak didapatkan saat memperkuat Belgia. “Hari ini, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya lebih suka bermain untuk Indonesia, karena rasa hormat yang akan mereka berikan kepada saya,” ujarnya.

Kritik ini menyentuh bukan hanya performa tim, tetapi juga filosofi kepelatihan dan arah pengembangan tim nasional Belgia. Pernyataan Nainggolan kemungkinan akan memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola mengenai peran pelatih dalam mengoptimalkan talenta individu menjadi sebuah sistem tim yang kohesif.

Radja Nainggolan Sebut Bisa Pilih Perkuat Timnas Indonesia daripada Belgia

Eks pemain tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, kembali menyentuh topik yang menyedot perhatian publik sepak bola Indonesia: kemungkinannya memilih memperkuat Timnas Indonesia daripada tetap dengan jalinan hubungannya bersama Timnas Belgia di masa lalu.

Nainggolan mengungkap bahwa apabila dirinya “didekati lebih awal” oleh pihak Indonesia, ia tidak menutup kemungkinan akan memilih mengenakan seragam Garuda. “Dulu, Indonesia belum berada di titik‑ini. Tetapi jika waktu itu situasinya seperti sekarang, mungkin saya akan membuat keputusan berbeda,” ujarnya dalam kesempatan wawancara yang dilaksanakan saat kunjungannya ke Tanah Air.

Dengan latar belakang darah Batak dari sang ayah dan karier profesional di Eropa yang mengukuhkan reputasi sebagai gelandang tangguh, Nainggolan menyoroti bahwa pilihan negara untuk pemain berdarah Indonesia menjadi lebih fleksibel saat ini — baik dari sisi liga, eksposur media maupun infrastruktur. Ia menambahkan bahwa faktor emosional dan identitas kerap menjadi penentu dalam keputusan besar seperti membela sebuah negara di level internasional.

Meski demikian, ia bersikap realistis ketika membandingkan peluang Timnas Indonesia dengan Belgia pada masa awal kariernya. “Ketika saya memulai di timnas, Anda melihat skala dan kondisi Federasi Bola di Indonesia belum seperti sekarang,” ungkap Nainggolan, seolah memberi penghormatan kepada langkah kemajuan yang sudah dicapai PSSI dan sepak bola nasional.

Kendati pernyataannya mengundang spekulasi tentang potensi naturalisasi maupun perubahan kewarganegaraan di kalangan pemain keturunan, Nainggolan tetap menegaskan bahwa keputusannya pada akhirnya ditentukan oleh aspek profesional dan kesiapan sistem di negara yang bersangkutan. “Bukan hanya soal DNA, tapi soal bagaimana Anda bisa memberi nilai tambah dan berada di lingkungan yang mendukung,” ucapnya.

Dengan situasi seperti ini, publik Indonesia kembali menyoroti tema “pemain berdarah luar” dan pilihan memperkuat Timnas Garuda sebagai langkah strategis untuk memperkuat tim nasional. Bagi Nainggolan, cerita ini bukan hanya soal satu individu — melainkan soal bagaimana identitas, kesempatan, dan momen bertemu.

Calvin Verdonk Ungkap Kekecewaan Usai Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026

Bek kiri Timnas Indonesia, Calvin Verdonk, tak dapat menyembunyikan rasa kecewa mendalam usai timnya gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026 dalam babak keempat Kualifikasi Zona Asia.

Pada dua laga penentuan Grup B, Indonesia menelan kekalahan dari Arab Saudi dengan skor 2‑3 dan dari Irak 0‑1 yang menjadikannya juru kunci grup tanpa poin.

Verdonk yang baru tampil di laga lawan Irak karena sebelumnya absen akibat cedera otot paha, menyebut bahwa meski seluruh pemain telah memberikan upaya maksimal, hasil akhirnya tetap jauh dari harapan.

“Ya, mimpi itu sudah berakhir, sangat menyakitkan. Saya tidak tahu kata apa yang harus dipakai, tapi kami sudah kasih segalanya,” ujarnya saat diwawancara melalui media sosial.

Meski demikian, Verdonk menegaskan bahwa kegagalan ini bukanlah akhir dari perjalanan. Ia melihatnya sebagai batu loncatan bagi Timnas Indonesia untuk bangkit dan membangun kembali dengan lebih kuat.

“Kami akan kembali — lebih kuat, bersama. Bersyukur atas segalanya dan semua orang dalam perjalanan ini,” tulisnya di akun Instagram.

Lebih jauh, Verdonk juga menyampaikan rasa hormatnya kepada seluruh pendukung yang setia mendampingi tim, dan menyatakan kebanggaannya mengenakan lambang Garuda di dada.

Dengan sorotan kini mengarah ke agenda berikutnya seperti Piala Asia 2027, Verdonk dan rekan‑rekan siap menatap persiapan baru dengan semangat yang diperbaharui. “Perjalanan ini belum berakhir,” katanya.

Timnas U-17 Indonesia Siap Tampil di Piala Dunia 2025, Nova Arianto Bawa 4 Pemain Diaspora

Jakarta — Pelatih Timnas U17 Indonesia, Nova Arianto, akhirnya menetapkan 21 pemain untuk menjalani tugas di Piala Dunia U‑17 2025 yang berlangsung di Qatar mulai 3 hingga 27 November 2025. Menariknya, komposisi skuad kali ini menampilkan empat pemain diaspora yang berkarier di luar Indonesia — sebuah langkah strategis untuk menghadirkan kekuatan baru dalam lini muda nasional.

Keempat pemain diaspora tersebut ialah:

  • Mike Rajasa Hoppenbrouwers — kiper yang memperkuat akademi FC Utrecht (Belanda)
  • Mathew Baker — gelandang bertahan dari Melbourne City (Australia)
  • Eizar Jacob Tanjung — bek yang berkarier bersama Sydney FC (Australia)
  • Lucas Lee — pemain yang memperkuat Ballistic United (AS)

Langkah ini mendapat perhatian karena sebelumnya dilakukan pemanggilan yang lebih besar terhadap pemain keturunan ­— misalnya sembilan pemain diaspora sempat dipanggil dalam pemusatan latihan.

Menurut pengamat, pemanggilan pemain luar negeri ini tak hanya soal bakat, tetapi juga soal meningkatkan daya saing tim di level dunia dimana lawan-lawan memiliki keunggulan postur, fisik, maupun pengalaman internasional.

Tim besutan Nova akan bergabung di Grup H, bersama Brasil U17 (juara empat kali), Honduras U17, dan debutan Zambia U17 — sebuah grup yang dipandang sebagai tantangan besar bagi skuad muda Indonesia.

Nova menyatakan bahwa kombinasi antara pemain-lama dan talenta baru (termasuk diaspora) dirancang agar skuad bisa menjaga kontinuitas sekaligus mengejar lompatan kualitas. Proses seleksi termasuk TC (training camp) dan persiapan matang di dalam dan luar negeri menjadi bagian dari agenda tim.

Dengan demikian, momentum Piala Dunia U-17 kali ini bukan sekadar debut atau tugas rutin, tetapi diharapkan menjadi batu loncatan bagi sepak bola muda Indonesia untuk “naik kelas” — baik dari segi pengalaman internasional maupun kualitas individu para pemain muda.—

Jordy Wehrmann Tegaskan Siap Bela Timnas Indonesia: “Tinggal Tunggu Keputusan PSSI”

Sebagai pemain berdarah Indonesia-Belanda yang saat ini memperkuat Madura United di Liga 1, Jordy Wehrmann menegaskan keinginannya untuk memperkuat Timnas Indonesia. Dia mengaku sudah menjalin komunikasi awal dengan PSSI dan siap memberikan kontribusi berarti bila kesempatan itu datang.

Dilahirkan di Den Haag pada 25 Maret 1999, Wehrmann memiliki garis keturunan Indonesia dari pihak ibunya. Ia pernah memperkuat tim junior Belanda, namun kini memilih menjejak karier profesional di Indonesia dan menyambungkan identitas dengan tanah leluhurnya.

Wehrmann mengungkapkan bahwa keinginannya untuk membela Timnas Indonesia bukanlah sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan keluarganya. “Saya sangat ingin mengenakan seragam Garuda,” ungkapnya ketika diwawancara.

Sebelumnya, proses naturalisasinya sempat tertunda akibat faktor timing — ia menjelaskan bahwa saat tawaran datang, ia sedang dalam proses perpindahan klub dan memilih fokus pada kariernya. Kini, dengan status sebagai pemain Madura United dan karier yang semakin stabil, Wehrmann merasa lebih siap daripada sebelumnya. Ia menyatakan bahwa keputusan akhir kini sepenuhnya berada di tangan PSSI.

Jika kesempatan itu terwujud, kehadiran Wehrmann diyakini akan memperkuat lini tengah Timnas Indonesia berkat pengalamannya di Eropa dan fleksibilitas posisi gelandang. Namun, tantangan administratif dan regulasi naturalisasi masih menjadi hambatan yang harus diselesaikan bersama.

Dengan latar belakang yang unik dan semangat yang tinggi, Jordy Wehrmann menjadikan mimpi membela Timnas Indonesia sebagai target nyata—bukan sekadar wacana. Waktu dan komitmen menjadi kunci agar impian ini bisa terwujud.

Timnas U22 Indonesia Siap Tampil di FIFA Matchday November, Indra Sjafri Apresiasi Kesempatan

JAKARTA – Tim Nasional U22 Indonesia akan kembali tampil di ajang FIFA Matchday pada November mendatang. Pelatih Indra Sjafri menyambut positif kesempatan ini sebagai momentum penting untuk mengukur kesiapan tim muda Garuda dalam menghadapi kompetisi internasional.

Indra Sjafri menilai bahwa partisipasi dalam FIFA Matchday memberikan pengalaman berharga bagi para pemain muda Indonesia. “Ini adalah kesempatan emas bagi pemain muda untuk mengasah kemampuan dan mental bertanding mereka di level internasional,” ujar Indra.

Meskipun lawan yang akan dihadapi belum diumumkan, Indra optimistis bahwa laga ini akan menjadi ajang evaluasi yang baik bagi tim. “Kami berharap dapat memaksimalkan laga ini untuk persiapan menuju turnamen-turnamen besar mendatang,” tambahnya.

Para pemain juga menunjukkan antusiasme tinggi menyambut laga internasional ini. “Kami siap memberikan yang terbaik dan belajar dari setiap pertandingan,” kata salah satu pemain inti Timnas U22.

Dengan persiapan matang dan semangat juang tinggi, Timnas U22 Indonesia berharap dapat tampil maksimal dan meraih hasil positif di ajang FIFA Matchday November mendatang.

Erick Thohir Tegas: Hentikan Bully terhadap Pemain Timnas, Mereka Bukan Robot

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengeluarkan peringatan tegas kepada publik dan media terkait tren perundungan (bullying) yang menimpa pemain-pemain tim nasional Indonesia, khususnya generasi muda. Dengan nada serius, ia menekankan bahwa kritik masih boleh dan bahkan diperlukan, tetapi ketika kritik berubah menjadi serangan personal atau pelecehan, maka hal itu sudah melanggar batas dan justru merugikan masa depan sepak bola nasional.

Dalam pernyataannya yang disampaikan di Jakarta, Thohir menyoroti bagaimana para pemain muda — beberapa di antaranya baru berusia belasan tahun — kerap menjadi sasaran hujatan atau ejekan rupa-rupa di media sosial dan pemberitaan, akibat kesalahan di lapangan. “Pemain sehebat apapun pasti di satu titik ada kondisi dia maksimal dan kadang tidak maksimal, dia manusia bukan robot,” ujarnya.

Lebih jauh, Erick mengajak semua pihak—including suporter, netizen, klub, dan media—untuk “naik kelas” bersama pembangunan sepak bola nasional. Ia menegaskan bahwa generasi muda seperti para skuad U-17, U-20, dan U-23 adalah aset bangsa yang harus dilindungi, bukan dihakimi secara berlebihan. “Kalau terus diserang dan di-bully, bagaimana mereka bisa berkembang?” tambahnya.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan publik yang cukup tinggi terhadap performa tim nasional. Namun Thohir menegaskan bahwa tekanan tidak boleh berubah menjadi elemen destruktif yang mematahkan motivasi atau karier pemain-muda. Dalam konteks ini, dia juga menyoroti peran media sebagai benteng moral: media memiliki tanggung jawab untuk memberikan kritik yang konstruktif, bukan sekadar mengekspos atau memperburuk kondisi mental atlet.

Dengan demikian, pesan utama Erick Thohir ialah: dukungan dan kritik harus berjalan berdampingan, tetapi perundungan harus dihentikan agar iklim sepak bola Indonesia bisa tumbuh sehat dan berkelanjutan.

Kegagalan Kualifikasi Piala Dunia 2026, Alex Pastoor dan Staf Kepelatihan Tinggalkan Timnas

Jakarta – Kegagalan Timnas Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi sorotan tajam, dengan pelatih Patrick Kluivert dan staf kepelatihan, termasuk Alex Pastoor, dinilai tidak mampu memenuhi ekspektasi. Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi pada 9 Oktober 2025 menambah panjang catatan buruk skuad Garuda, yang hanya meraih tiga kemenangan dari delapan laga di bawah arahan Kluivert.

PSSI akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Kluivert dan tim kepelatihannya, termasuk Pastoor dan Denny Landzaat. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional.

Alex Pastoor, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten pelatih, kini menghadapi tantangan besar dalam mencari peluang karier baru. Keputusan PSSI ini mencerminkan kebutuhan akan perubahan signifikan dalam struktur kepelatihan untuk mencapai prestasi yang lebih baik di masa depan.