Polisi Bongkar Penipuan Trading Kripto, Pelaku Ngaku Profesor dari AS dan Ramal Pasar Saham Runtuh

Jakarta – Sebuah sindikat penipuan daring dengan modus trading saham dan kripto kembali terbongkar oleh aparat kepolisian. Uniknya, pelaku menggaet korban lewat janji manis dari sosok yang mengaku “Profesor AS” yang menyebarkan ramalan bahwa pasar saham global akan segera runtuh — sebagai bagian dari strategi untuk mengajak masyarakat terjun ke “peluang terbuka besar”.

Dalam pengungkapan tersebut, sebuah tim penyidik dari Bareskrim Polri menyatakan bahwa iklan-online yang dipasang di media sosial (termasuk Facebook) menjadi pintu masuk korban. Iklan tersebut menyebutkan bahwa “anger of markets”, yakni potensi kehancuran pasar saham internasional, sudah sangat dekat — dan bahwa trading saham ataupun kripto adalah jalan cepat untuk “mengamankan” aset dan “memanen keuntungannya” sebelum gelombang kejatuhan. Modus ini terbukti memperdaya puluhan korban di Indonesia.

Korban kemudian diarahkan untuk bergabung ke grup WhatsApp, di mana figur yang mengaku Profesor AS memberikan materi malam-harian tentang “bagaimana menangkap peluang saat pasar akan runtuh”, dengan janji keuntungan hingga ratusan persen bila mengikuti program tersebut.

Setelah itu, korban diminta membuka akun pada platform trading saham/kripto yang diduga fiktif — seperti platform JYPRX, SYIPC, dan LEEDXS — lalu menyetor dana melalui berbagai rekening bank lokal yang terhubung dengan sindikat.

Begitu korban ingin menarik keuntungan atau bahkan modal awalnya, mereka diberi syarat tambahan seperti “pajak” atau “biaya verifikasi” yang harus dibayar terlebih dahulu. Ketika tarik dana akhirnya gagal, korban baru menyadari bahwa mereka terjebak dalam skema penipuan. Kerugian yang sudah teridentifikasi mencapai lebih dari Rp 100 miliar dengan korban menyebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Pengamat kejahatan siber menyebut bahwa penggunaan narasi “pasar saham akan runtuh” adalah trik psikologis untuk menimbulkan rasa takut dan urgensi, agar calon korban bergerak cepat tanpa pertimbangan matang. Selain itu, gambaran “Profesor AS” memberi kesan kredibilitas internasional yang menipu, padahal pelaku merupakan sindikat internasional dengan jaringan di beberapa negara.

Untuk publik, kasus ini menjadi pengingat bahwa tawaran “keuntungan besar cepat” lewat trading yang disertai narasi dramatis seperti kehancuran pasar harus disikapi dengan sangat hati-hati. Nasihatnya: verifikasi legalitas platform, jangan tergesa-gesa, dan hindari ikut program yang memicu “ketakutan pasar” sebagai alasan untuk investasi cepat.