Presiden Prabowo Setujui Pembentukan Ditjen Pesantren untuk Perkuat Pendidikan Islam

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto resmi menyetujui pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Keputusan ini diumumkan pada peringatan Hari Santri 2025 dan dianggap sebagai langkah strategis dalam memperkuat peran pesantren di Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa pembentukan Ditjen Pesantren merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa. Ia berharap, dengan adanya Ditjen Pesantren, pengelolaan dan pengembangan pesantren dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Ditjen Pesantren akan bertanggung jawab dalam konsolidasi data pesantren secara nasional, memastikan bahwa setiap pesantren terdata dengan baik dan mendapatkan akses yang setara terhadap bantuan pemerintah. Ia juga menambahkan bahwa Ditjen ini akan memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Pembentukan Ditjen Pesantren juga diharapkan dapat memperkuat kerukunan umat beragama dan mempercepat proses sertifikasi pesantren, sehingga program pembinaan dapat lebih tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Keputusan ini disambut positif oleh berbagai kalangan, termasuk para pengasuh pesantren dan tokoh agama, yang berharap langkah ini dapat membawa perubahan positif bagi dunia pesantren di Indonesia.

Prabowo Tambahkan Bahasa Portugis ke Kurikulum, Perkuat Hubungan Indonesia–Brasil

Jakarta, Kamis 23 Oktober 2025 — Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah baru dalam kebijakan pendidikan nasional dengan memasukkan bahasa Portugis sebagai salah satu mata pelajaran prioritas. Pernyataan ini disampaikan saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, di istana di Jakarta.

Menurut Prabowo, keputusan ini merupakan refleksi dari komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Brasil—yang ia nilai sebagai mitra strategis penting. “Bahasa Portugis akan menjadi prioritas, saya akan memberi petunjuk kepada Menteri Pendidikan Tinggi dan Menteri Pendidikan Dasar untuk mulai mengajar bahasa Portugis di sekolah-sekolah kita,” ucapnya.

Langkah ini juga dilihat sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya dan pendidikan yang lebih luas. Dengan mengadopsi bahasa negara mitra sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, Indonesia berharap memperluas jaringan kerja sama pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan ke dunia berbahasa Portugis.

Pemerintah menginstruksikan dua menteri terkait untuk menyiapkan program implementasi: Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Mereka diminta mengkaji kapan dan bagaimana bahasa Portugis mulai diajarkan di sekolah-sekolah.

Namun, kebijakan ini belum secara detail menetapkan jadwal atau tingkat pendidikan mana yang akan terlebih dahulu menerapkan pelajaran tersebut. Para stakeholder di bidang pendidikan kini menantikan petunjuk teknis dan dukungan sumber daya, seperti tenaga pengajar dan materi pembelajaran.

Secara bersamaan, kebijakan itu juga menegaskan bahwa hubungan Indonesia-Brasil akan diperkuat lebih dari sekadar simbol diplomatik: dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyebut bahwa kedua negara tengah mengincar kerja sama ekonomi komprehensif melalui blok perdagangan seperti MERCOSUR.

Pengamat pendidikan menilai bahwa pengenalan bahasa Portugis bisa membuka peluang baru bagi siswa Indonesia—baik dalam akses ke pasar kerja negara-berbahasa Portugis maupun dalam pertukaran budaya. Namun mereka juga mengingatkan tantangan seperti ketersediaan guru ahli bahasa, kesiapan kurikulum, serta relevansi bahasa Portugis dibanding bahasa asing lain yang selama ini lebih dominan.

Dengan demikian, langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan pendidikan Bahasa di Indonesia, yang kini tidak hanya menekankan Bahasa Inggris atau bahasa utama lain, tetapi juga memasukkan bahasa mitra strategis sebagai bagian dari visi globalisasi dan diplomasi pendidikan.

Kemenbud Apresiasi Pegiat Budaya di Momentum Satu Tahun Pemerintahan Prabowo

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan menyelenggarakan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Tahun 2025 Tahap II dengan tema “Merawat Harmoni Budaya, Menginspirasi Dunia”. Acara ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan capaian satu tahun program dan kinerja Kemenbud.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dari para individu, komunitas, dan lembaga yang telah mendedikasikan diri dalam upaya pemajuan kebudayaan. Beliau menekankan bahwa Anugerah ini merupakan bentuk pengakuan negara atas kerja-kerja konsisten dan inovasi yang sering lahir jauh dari sorotan publik, tetapi berdampak bagi masyarakat.

AKI hadir sebagai wujud upaya nyata pemerintah dalam melestarikan dan merayakan kerja nyata pemajuan kebudayaan. Melalui penghargaan ini, Kemenbud berharap dapat mendorong semangat para pegiat budaya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam memperkaya khazanah budaya Indonesia.