Mikroplastik di Udara dan Hujan Ancam Kesehatan Paru, Dokter Peringatkan Bahaya Jangka Panjang

Jakarta — Partikel mikroplastik yang kini terdeteksi tidak hanya dalam air dan tanah, tetapi juga di udara perkotaan dan hujan diperingatkan oleh para pakar kesehatan sebagai ancaman serius bagi fungsi paru-paru manusia.

Menurut spesialis paru, Agus Dwi Susanto, ukuran partikel mikroplastik menentukan seberapa dalam partikel itu dapat masuk ke sistem pernapasan, dan paparan jangka panjang dapat menimbulkan gangguan mulai dari iritasi ringan hingga penyakit paru-paru kronis.

Sebagai contoh, mikroplastik ukuran lebih besar dari sekitar 5 mikrometer biasanya tertahan di saluran napas atas dan menyebabkan gejala seperti hidung berair, gatal-tenggorokan dan batuk. Sementara partikel berukuran antara 0,5 hingga 5 mikrometer bisa masuk hingga saluran napas bawah atau alveoli, memicu peradangan paru, batuk berdahak, hingga sesak napas. Dalam jangka panjang, paparan ini bisa meningkatkan risiko penyakit seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), fibrosis paru bahkan kanker paru.

Temuan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan adanya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta—yang menunjukkan bahwa siklus pencemaran plastik telah mencapai atmosfer dan dapat kembali ke manusia melalui inhalasi maupun konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi.

Meski banyak aspek masih memerlukan penelitian lebih lanjut, para ahli menyerukan agar masyarakat mengambil langkah pencegahan:

  • Gunakan masker saat berada di luar ruangan terutama saat debu atau polusi udara tinggi.
  • Tingkatkan daya tahan tubuh melalui istirahat cukup dan nutrisi baik, sehingga tubuh lebih mampu menghadapi paparan tersebut.
  • Kurangi penggunaan produk plastik sekali pakai, hindari pembakaran sampah plastik, dan kelola limbah plastik dengan benar agar menekan jumlah mikroplastik yang terlepas ke lingkungan.

Paparan mikroplastik ini menjadi tantangan baru kesehatan lingkungan yang tidak tampak secara langsung oleh masyarakat, namun dampaknya bisa terasa jauh ke dalam tubuh manusia—khususnya sistem pernapasan. Pemerintah dan lembaga kesehatan pun diingatkan untuk mengintensifkan pengawasan dan edukasi publik agar risiko yang muncul tidak semakin meluas.