Ahok Soroti Jalan Beda Tinggi di Penjaringan: Proyek Mangkrak Sejak 2016

Jakarta Utara – Sebuah proyek peninggian jalan di kawasan Jalan Inspeksi Kali Duri, Pejagalan, Penjaringan, kembali menjadi sorotan. Proyek itu terbengkalai selama bertahun-tahun, menyebabkan satu lajur jalan lebih tinggi sekitar 30-40 cm dibanding lajur lainnya. Warga menyebut ketidakrataan ini sudah berlangsung sejak sekitar 2014–2016 dan telah menyebabkan beberapa kendaraan terperosok.

Menurut keterangannya, pekerjaan awal dilakukan oleh pengembang swasta lewat program CSR pada tahun 2016. Namun lajur yang lebih rendah tak kunjung selesai, sehingga kondisi jalan menjadi miring dan menimbulkan risiko bagi pengguna jalan.

Menanggapi hal ini, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta saat proyek dimulai, mengaku sudah tidak sepenuhnya mengingat detail pelaksanaannya. Namun menurutnya, proyek yang menggunakan dana APBD seharusnya tidak mangkrak seperti ini.

Pemerintah Provinsi DKI melalui Pramono Anung selaku Gubernur kini melakukan langkah peninjauan langsung kawasan tersebut pada 27 Oktober 2025. Pramono menyatakan akan menindaklanjuti dengan memanggil pihak pengembang dan Dinas Bina Marga untuk segera menyelesaikan pekerjaan ataupun mengambil alih penyelesaiannya apabila pengembang enggan bertanggung-jawab.

Sementara itu, Ketua RW setempat menuturkan bahwa warga telah berkali-kali menyampaikan pengajuan melalui Musrenbang agar kondisi jalan yang “tinggi sebelah” itu diperbaiki. Keluhan utama adalah kondisi sempit dan miringnya lajur yang dapat membahayakan, terutama saat hujan atau malam hari tanpa marka jalan yang jelas.

Kasus ini menjadi gambaran tantangan penyelesaian proyek infrastruktur di tingkat lokal — mulai dari pembiayaan (CSR vs APBD), koordinasi antar pemangku kepentingan, hingga keberlanjutan pekerjaan setelah pergantian pemerintahan. Di wilayah padat seperti Penjaringan, ketidakseimbangan elevasi jalan bukan hanya soal kenyamanan tetapi juga faktor keselamatan dan aksesibilitas warga.

Lima Ruas Jalan Utama di Jakarta Ditutup Pagi Ini, Dishub Siapkan Rute Alternatif

Pagi ini di ibukota terjadi penutupan sementara pada lima ruas jalan utama sebagai bagian dari penataan arus lalu lintas besar-besaran. Pengguna jalan di wilayah pusat kota diimbau untuk memperhitungkan waktu ekstra dan mempertimbangkan jalur alternatif.

Penutupan dimulai sejak pagi hari dan mencakup ruas-ruas strategis seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Gerbang Pemuda, Jalan M.H. Thamrin (termasuk Bundaran HI) dan Jalan Sisingamangaraja. Informasi resmi menyebutkan bahwa penutupan dilakukan mulai dini hari, dengan waktu puncak pengaturan arus antara pukul 03.30 hingga 08.30 WIB.

Pihak berwenang menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan guna menjamin kelancaran suatu acara besar serta memastikan keamanan bagi seluruh pengguna jalan. Dalam keterangan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, rekayasa lalu lintas mencakup penutupan garis lurus ruas-jalan tersebut dan pengalihan arus ke jalur alternatif yang telah dipetakan.

Sebagai antisipasi, beberapa jalur alternatif telah disosialisasikan kepada publik. Misalnya, pengguna dari arah selatan menuju pusat kota diarahkan melalui area-area seperti Jalan Asia Afrika hingga Gerbang Pemuda, serta rute-rute samping yang menghindari jalan utama yang ditutup.

Pejabat Dishub mengimbau agar pengendara menghindari zona penutupan apabila tidak memiliki keperluan mendesak, menggunakan angkutan umum apabila memungkinkan, dan selalu memantau update lalu lintas melalui kanal resmi agar tidak terjebak kemacetan mendadak.

Demikian situasi pagi ini terkait rekayasa lalu lintas di pusat kota. Pengguna jalan diharapkan bersabar dan menyesuaikan rute perjalanan mereka.