Ribuan Buruh Kepung Jakarta, Desak Kenaikan Upah dan Penghapusan Outsourcing

Jakarta — Hari ini, ribuan pekerja dari berbagai sektor menyalurkan aspirasinya di kawasan pusat pemerintahan di Jakarta. Para demonstran mendesak pemerintah dan DPR untuk segera memperhatikan dua poin utama: kenaikan upah minimum dan penghapusan sistem outsourcing yang dianggap merugikan pekerja.

Koordinator aksi menyampaikan bahwa gerakan ini tidak sekadar tuntutan ekonomi jangka pendek, tetapi juga refleksi atas kondisi ketenagakerjaan yang dinilai tidak sejalan dengan dinamika biaya hidup dan perkembangan industri. Sebagai bagian dari agenda, kartu utama yang dibawa adalah penghentian outsourcing yang selama ini dianggap menempatkan pekerja di posisi lebih lemah — meskipun regulasi baru semestinya membatasi praktik tersebut.

Salah satu tuntutan konkret yang disuarakan adalah kenaikan upah minimum nasional sebesar 8,5 % hingga 10,5 % menjelang tahun depan. Argumennya: inflasi dan pertumbuhan ekonomi tercatat menunjukkan angka yang cukup untuk mendukung peningkatan yang layak. Berdasarkan data yang disampaikan, inflasi dari Oktober 2024 hingga September 2025 diperkirakan mencapai 3,26 %, dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1%-5,2%. Dengan basis ini, buruh menilai kenaikan 8,5%-10,5% merupakan angka yang realistis.

Mengenai outsourcing, para pekerja menekankan bahwa meskipun ada putusan Mahkamah Konstitusi yang menyerukan pembatasan alih daya hanya untuk pekerjaan non-inti, kenyataannya “outsourcing” masih meluas, termasuk di BUMN dan perusahaan besar. Praktik tersebut dianggap mengurangi kepastian kerja dan menghambat hak pekerja atas pengembangan karir serta jaminan sosial.

Dalam sambutannya, pimpinan serikat pekerja menyebut aksi ini sebagai momentum penting untuk “menuntut keadilan kerja” dan agar pemerintah tidak kembali pada kebijakan yang mereka pandang kurang berpihak pada pekerja. Aksi mereka diberi nama ‘HOSTUM’ (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah) — sebagai simbol bahwa isu yang diangkat tidak hanya upah tetapi juga bentuk struktural dalam hubungan kerja.

Meski demikian, pemerintah dan perwakilan pengusaha hingga saat ini belum memberikan komitmen publik yang langsung memuaskan para pekerja. Oleh karena itu, aksi hari ini dipandang sebagai langkah awal yang cukup signifikan dalam merebut perhatian publik dan pengambil kebijakan.

Aksi berlangsung dengan suasana relatif tertib, meski di beberapa titik kepadatan lalu-lintas sempat terjadi. Pihak kepolisian berada di lokasi untuk mengamankan jalannya aksi sambil menjaga agar demonstrasi berjalan damai.

Para buruh menegaskan bahwa jika tuntutan mereka tak kunjung ditanggapi secara serius, mereka akan kembali mengonsolidasikan aksi — bahkan bisa berskala lebih besar dan melibatkan daerah-daerah industri di luar Jakarta.

Pramono Dorong Pekerja Migran Asal DKI Jakarta Masuk Pasar Kerja Negara Maju

Jakarta — Dalam pertemuan dengan jajarannya, Pramono Anung menyoroti peluang besar bagi warga ­‐ terutama dari provinsi ­‐ DKI Jakarta untuk mengisi pasar kerja di luar negeri. Ia menegaskan bahwa menempatkan tenaga kerja ke “negara maju” menjadi bagian dari strategi untuk memanfaatkan kompetensi lokal sekaligus mengurangi tekanan pengangguran domestik.

Menurut Pramono, Jakarta memiliki karakteristik yang membedakannya dari wilayah lainnya — infrastruktur pelatihan kerja, akses ke pendidikan vokasi dan bahasa asing, hingga jaringan pencari kerja yang sudah lebih siap. Hal ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menjajaki skema penempatan ke luar negeri secara terencana.

Langkah ini sejalan dengan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia yang mencatat peningkatan besar penempatan pekerja migran asal Indonesia, dan membuka peluang ke kawasan Eropa serta Asia Barat.

Pramono mendorong agar calon pekerja dari Jakarta mendapatkan pelatihan tambahan — termasuk peningkatan kemampuan bahasa, sertifikasi keahlian, serta orientasi kerja di negara tujuan — agar siap bersaing di pasar global.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa penempatan luar negeri harus dilakukan dengan mekanisme yang benar supaya tidak jatuh ke praktik kerja tak layak atau bahkan eksploitasi. Oleh sebab itu, Pramono menyebut bahwa kerja sama pemerintah pusat dan daerah juga harus memperkuat sistem pelindungan, registrasi resmi, serta jaminan sosial bagi pekerja yang akan ke luar negeri.

Dengan skema yang matang, Pramono berharap bahwa warga Jakarta bisa menjadi bagian dari “duta tenaga kerja” Indonesia di lintas negara maju — bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi sebagai tenaga profesional yang membawa nilai tambah. Pemerintah pun akan terus memetakan negara-negara mitra yang memiliki kebutuhan nyata akan tenaga kerja dari Indonesia.

Rano Karno: Keberagaman Kunci Jakarta Menuju Kota Kelas Dunia

Jakarta, 28 Oktober 2025 – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa keberagaman budaya merupakan elemen kunci dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota kelas dunia. Menurutnya, Jakarta memiliki potensi besar untuk menjadi pusat budaya global, berkat keragaman etnis, agama, dan budaya yang dimilikinya.

“Keberagaman adalah kekuatan kita. Jakarta harus mampu mengelola dan memanfaatkan keberagaman ini untuk menciptakan harmoni dan kemajuan bersama,” ujar Rano Karno dalam sebuah kesempatan.

Ia menambahkan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen budaya. Pentingnya pendidikan multikultural dan penguatan nilai-nilai toleransi juga menjadi fokus dalam pembangunan kota.

Rano Karno optimistis bahwa dengan mengedepankan keberagaman, Jakarta tidak hanya akan menjadi kota yang maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi kota yang inklusif dan berbudaya tinggi.

Menelusuri Jejak Tiga Gedung Saksi Lahirnya Sumpah Pemuda di Jakarta

Pada akhir Oktober 1928, di tengah semangat kebangkitan bangsa yang sedang tumbuh, sekelompok pemuda dari berbagai wilayah Hindia Belanda berkumpul untuk menegaskan satu visi bersama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Pertemuan–pertemuan itu digelar berturut-turut dalam tiga gedung berbeda di Batavia (sekarang Jakarta), yang kemudian menjadi saksi lahirnya ikrar bersejarah tersebut.

Pertemuan pertama berlangsung pada 27 Oktober 1928 di gedung Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di sinilah para pemuda mulai mengutarakan gagasan persatuan nasional melalui paparan-paparan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh pelajar.

Selanjutnya, pada pagi 28 Oktober 1928, rapat kedua digelar di gedung Gedung Oost‑Java Bioscoop di Jalan Medan Merdeka Utara. Di sini diskusi beralih ke tema pendidikan pemuda sebagai penopang masa depan bangsa: pendidikan kebangsaan, keseimbangan sekolah-rumah, serta demokrasi dalam didikan.

Akhirnya, pada hari yang sama (28 Oktober) sore, rapat ketiga dan penetapan ikrar berlangsung di gedung Gedung Indonesische Clubgebouw (Kramat Raya 106) — yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Di tempat inilah naskah ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda akhirnya disampaikan: “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; … berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; … menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Ketiga lokasi itu sekarang bukan hanya bangunan tua semata — tetapi simbol perjuangan dan persatuan. Misalnya, Gedung KJB yang masih berdiri dalam kompleks pendidikan Sekolah Santa Ursula, mempertahankan jejak bebangunan asli dengan sedikit modifikasi. Sementara gedung Oost-Java Bioscoop kini sudah tiada, namun lokasi-nya tetap dikenang sebagai titik penting dalam proses lahirnya Sumpah Pemuda.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, peringatan terhadap tanggal 28 Oktober dan tiga lokasi tersebut penting untuk mengingat bahwa persatuan bangsa tidak datang dengan mudah. Para pemuda — dari berbagai daerah, latar belakang etnis, dan organisasi — bersatu saat itu bukan hanya secara fisik tetapi secara ide: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.

Pramono Anung Dorong M Bloc Hub Jadi Pusat Kreativitas Anak Muda Jakarta

Jakarta — Gubernur Pramono Anung menegaskan ambisinya menjadikan kawasan M Bloc Hub sebagai pusat kreativitas anak-muda di Ibu Kota. Ia melihat lokasi tersebut bukan hanya sebagai area komersial atau hiburan biasa, tetapi sebagai ruang kolaborasi, inovasi, dan ekspresi budaya yang akan menggerakkan generasi muda Jakarta ke arah produktif.

Menurut Pramono Anung, M Bloc Hub memiliki potensi kuat untuk menjadi “jantung kreativitas”, karena terletak di jantung kota, mudah diakses, serta sudah mulai diisi oleh berbagai aktivitas seni, musik, kafe, serta ruang kreatif lainnya. Dari situ, ia ingin menciptakan momentum agar para anak muda bisa berkumpul, berkreasi, berkarya, dan akhirnya tumbuh menjadi penggerak ekonomi kreatif lokal.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberadaan kawasan seperti M Bloc Hub juga mempunyai fungsi sosial penting: menyediakan alternatif positif bagi anak-muda yang selama ini mungkin mencari outlet di jalur yang kurang produktif. Dengan kata lain, kawasan ini diharapkan menjadi magnet untuk aktivitas yang membangun — baik seni, wirausaha kreatif, komunitas, maupun ekspresi budaya — sekaligus menekan angka kegiatan negatif yang bisa muncul akibat kurangnya ruang publik yang memadai.

Untuk mendukung visi tersebut, Pemprov DKI telah menginstruksikan penyediaan fasilitas pendukung: ruang terbuka untuk pertunjukan, workshop, galeri pop-up, hingga akses transportasi yang memadai agar kawasan ini mudah dijangkau dari berbagai sudut kota. Ia juga meminta pelaku usaha di sekitar serta komunitas lokal agar terlibat aktif, agar ekosistem kreatif di M Bloc Hub tidak hanya menjadi “tempat nongkrong”, melainkan “lahan subur” bagi ide-ide baru, startup kreatif, serta kolaborasi lintas disiplin.

Pramono menutup pernyataannya dengan harapan agar generasi muda Jakarta tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku — aktif menciptakan sesuatu yang unik, yang mencerminkan identitas dan budaya kota, dan pada akhirnya mendukung Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada kreativitas dan budaya lokal.

Lima Ruas Jalan Utama di Jakarta Ditutup Pagi Ini, Dishub Siapkan Rute Alternatif

Pagi ini di ibukota terjadi penutupan sementara pada lima ruas jalan utama sebagai bagian dari penataan arus lalu lintas besar-besaran. Pengguna jalan di wilayah pusat kota diimbau untuk memperhitungkan waktu ekstra dan mempertimbangkan jalur alternatif.

Penutupan dimulai sejak pagi hari dan mencakup ruas-ruas strategis seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Gerbang Pemuda, Jalan M.H. Thamrin (termasuk Bundaran HI) dan Jalan Sisingamangaraja. Informasi resmi menyebutkan bahwa penutupan dilakukan mulai dini hari, dengan waktu puncak pengaturan arus antara pukul 03.30 hingga 08.30 WIB.

Pihak berwenang menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan guna menjamin kelancaran suatu acara besar serta memastikan keamanan bagi seluruh pengguna jalan. Dalam keterangan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, rekayasa lalu lintas mencakup penutupan garis lurus ruas-jalan tersebut dan pengalihan arus ke jalur alternatif yang telah dipetakan.

Sebagai antisipasi, beberapa jalur alternatif telah disosialisasikan kepada publik. Misalnya, pengguna dari arah selatan menuju pusat kota diarahkan melalui area-area seperti Jalan Asia Afrika hingga Gerbang Pemuda, serta rute-rute samping yang menghindari jalan utama yang ditutup.

Pejabat Dishub mengimbau agar pengendara menghindari zona penutupan apabila tidak memiliki keperluan mendesak, menggunakan angkutan umum apabila memungkinkan, dan selalu memantau update lalu lintas melalui kanal resmi agar tidak terjebak kemacetan mendadak.

Demikian situasi pagi ini terkait rekayasa lalu lintas di pusat kota. Pengguna jalan diharapkan bersabar dan menyesuaikan rute perjalanan mereka.

Pramono Anung Dorong Penghijauan di Kawasan Padat Penduduk Jakarta

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong percepatan penghijauan di kawasan padat penduduk untuk meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan warga. Dalam kunjungan kerja ke Jakarta Pusat, Pramono menekankan pentingnya penataan ruang hijau sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim dan penurunan emisi karbon.

“Penghijauan di kawasan padat penduduk bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kesehatan dan kualitas hidup. Kita harus memastikan setiap warga Jakarta dapat menikmati ruang terbuka hijau yang memadai,” ujar Pramono.

Sebagai langkah konkret, Pemprov DKI Jakarta berencana menambah jumlah taman kota dan ruang terbuka hijau di wilayah-wilayah yang selama ini minim fasilitas tersebut. Selain itu, program penghijauan juga akan melibatkan masyarakat melalui kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaan lingkungan sekitar.

Pramono berharap, dengan adanya ruang hijau yang cukup, kualitas udara di Jakarta dapat membaik, dan warga dapat menikmati lingkungan yang lebih sehat dan nyaman.