SBY dan Mantan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Gelar Reuni di Thamrin

Jakarta — Mantan Presiden SBY kembali menjadi pusat perhatian ketika beliau berkumpul bersama sejumlah mantan pembantunya dari era Kabinet Indonesia Bersatu di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Re‑pertemuan ini tidak sekadar momen nostalgia, tetapi juga menunjukkan jejak hubungan antar‑elit pemerintahan masa lalu serta imbasnya bagi polemik politik kontemporer.

Momen Kebersamaan & Refleksi

Dalam suasana hangat, SBY didampingi oleh mantan‑mantan menterinya yang pernah aktif dalam kabinet 2004‑2014. Mereka tampak berdiskusi secara informal—mulai dari kondisi politik terkini hingga bagaimana pengalaman mereka dulu bisa dijadikan rujukan untuk era sekarang. Salah satu yang terlihat hadir adalah Sri Mulyani Indrawati yang menyebut pertemuan itu sebagai “ajang berbagi kabar dan semangat kolektif.”

Momen tersebut, menurut sejumlah pengamat, lebih dari sekadar reuni — melainkan sinyal bahwa para aktor lama masih menjaga jaringan dan solidaritas. Keberadaan para mantan menteri dan figur‑figur pemerintahan sebelumnya di satu arena sosial bisa menjadi panggung tidak langsung bagi pengaruh dan peran mereka di belakang layar politik nasional.

Simbolisme dan Implikasi Politik

Walau acara ini bersifat non‑resmi dan bersifat silaturahmi, pengamat menilai bahwa adanya pertemuan semacam ini membawa simbol yang lebih besar: keberlanjutan jaringan kekuasaan lama dan potensi keterlibatan dalam dinamika politik sekarang. Sebagai contoh, kehadiran tokoh‑tokoh lama dapat dianggap sebagai “cadangan intelektual” atau penasihat informal bagi pemerintahan kini maupun yang akan datang.

Bagi SBY sendiri, reuni ini juga memberi kesempatan untuk menunjukkan bahwa legasinya masih relevan — bahwa pengalaman kepemimpinannya dan kabinet yang dipimpinnya bukan hanya catatan sejarah, tetapi masih memiliki resonansi dalam percaturan politik modern. Hal ini dapat memberi efek ganda: memperkuat posisi SBY sebagai tokoh senior yang berpengaruh sekaligus memperlihatkan kesiapan para eks‑menteri untuk “turun tangan” bila diperlukan.

Pesan Untuk Masa Depan

Dalam kesempatan tersebut, SBY menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan semangat kolektif sebagai bekal menghadapi tantangan bangsa. Ia menyampaikan bahwa meskipun zaman berubah, komitmen terhadap bangsa dan negara tetap harus dijaga oleh semua generasi — termasuk mereka yang pernah memegang amanat besar di pemerintahan.

Bagi publik, reuni ini menjadi pengingat bahwa politik nasional bukan hanya soal figur yang kini menjabat, tetapi juga soal warisan dan jaringan yang terbangun dari masa lalu. Hal ini mendorong pertanyaan: bagaimana eks‑menteri dan tokoh lama ini akan terlibat ke depan? Apakah akan memberikan dukungan, kritik, atau aktif dalam pembentukan opini dan kebijakan?

Timnas U-17 Indonesia Siap Buktikan Diri di Piala Dunia 2025

Jakarta — Setelah memastikan diri lolos ke Piala Dunia U‑17 2025, skuad Timnas U‑17 Indonesia kini menatap babak utama dengan tekad untuk “berbicara banyak” di panggung global. Asuhan pelatih Nova Arianto ini tidak sekadar ingin tampil, tetapi juga menunjukkan kapasitas kelompok usia muda Indonesia menghadapi kekuatan dunia.

Dalam proses pembinaan dan persiapan, tim muda ini telah melewati berbagai uji coba internasional yang sengaja dirancang untuk mengasah mental dan kemampuan menghadapi lawan tangguh. Ketua umum PSSI, Erick Thohir, pun memberi lampu hijau penuh, meminta para pemain menampilkan identitas bangsa di Qatar dan menjadikan ajang ini bukan sekadar pengalaman, tetapi batu loncatan.

Lolos ke Piala Dunia U-17 bukan hanya soal hadiah—itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa pembinaan usia muda di Indonesia mulai membuahkan hasil. Dengan format turnamen yang diperluas ke 48 tim, tekanan dan persaingan semakin tinggi. Meski demikian, Nova Arianto menegaskan bahwa aspek utama bukanlah hasil semata, melainkan bagaimana para pemain dapat berkembang, menikmati pengalaman, dan membawa nilai positif ke jenjang tim senior kelak.

Dengan demikian, Timnas U-17 Indonesia tidak hanya “ingin hadir”, melainkan siap “berbicara”—baik di lapangan dengan prestasi, maupun di ruang karir individu pemain yang bisa menembus liga-luar negeri. Momentum Piala Dunia U-17 2025 menjadi ujian sekaligus platform untuk masa depan sepak bola Indonesia.

Ketum PB Pertacami Apresiasi Atlet Muda Indonesia atas Prestasi di Asian Youth Games 2025

Jakarta — Cabang olahraga Mixed Martial Arts (MMA) Indonesia mencatat tonggak penting di ajang Asian Youth Games 2025. Ketua Umum PB Pertacami, Tommy Paulus Hermawan, menyampaikan penghargaan tinggi kepada atlet-atlet muda binaannya yang berhasil mengharumkan nama bangsa melalui prestasi di level Asia.

Menurut Hermawan, meski persaingan sangat ketat dan lawan datang dari negara dengan tradisi kuat MMA, ketangguhan dan tekad para atlet Indonesia tidak kalah. Hasil yang diraih bukan semata angka medali, namun juga bukti bahwa program pembinaan jangka panjang yang dilakukan oleh Pertacami mulai menunjukkan hasil.

Hermawan menekankan bahwa pencapaian di ajang tersebut — baik dalam kategori classic maupun modern MMA — mencerminkan keberhasilan strategi pembinaan yang telah dimulai sejak pertengahan tahun. Ia menambahkan bahwa struktur persiapan, mulai dari latihan fisik, taktik, hingga mental juang, dibuat agar atlet muda mampu tampil dalam kondisi kompetisi internasional tanpa rasa gentar.

“Tentu kami bangga, tapi ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang,” ujar Hermawan. Ia mengajak atlet-atlet muda lainnya serta pelatih untuk tetap rendah hati dan fokus. Menurutnya, kemenangan hari ini bukan akhir, melainkan batu loncatan menuju event yang lebih besar seperti Olimpiade Remaja dan multi event Asia di masa depan.

Di sisi lain, Hermawan menyampaikan apresiasi kepada semua pihak pendukung — mulai dari pemerintah, sponsor, pelatih, hingga lembaga pendidikan yang bekerja sama dalam program pelatnas MMA. Ia menilai bahwa sinergi ini sangat penting agar potensi muda Indonesia di MMA tidak hanya terbatas pada prestasi sporadik, tetapi bisa menghasilkan keberlanjutan dan konsistensi.

Dengan bekal hasil di Asian Youth Games 2025, PB Pertacami kini berfokus mempersiapkan generasi atlet berikutnya dengan target yang lebih ambisius — yaitu menjaga dan meningkatkan prestasi, serta memastikan bahwa MMA Indonesia bisa bersaing secara kompetitif di tingkat Asia dan dunia.

Presiden Prabowo Bertolak ke Korea Selatan, Bawa Misi Ekonomi Indonesia di KTT APEC 2025

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertolak ke Korea Selatan dalam waktu dekat untuk menghadiri forum strategis internasional KTT APEC 2025 (Asia-Pacific Economic Cooperation) yang akan digelar di kota-kota seperti Gyeongju, Jeju, Incheon, dan Busan.

Agenda kunjungan ini dilatarbelakangi oleh upaya Indonesia untuk memperkuat peran dan reputasi di gelanggang ekonomi kawasan Asia-Pasifik, sekaligus mengangkat isu-isu seperti transformasi teknologi, integrasi rantai pasok, dan penguatan multilateralisme.

Sebelum berangkat ke Korea Selatan, Prabowo akan terlebih dahulu hadir di KTT ASEAN ke‑47 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 26-28 Oktober 2025.

Dalam forum APEC nanti, Indonesia akan membawa beberapa agenda penting, antara lain memperkuat hubungan ekonomi dengan mitra Asia-Pasifik, mendorong inovasi digital, serta ikut serta dalam upaya menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan.

Dengan kehadiran presiden ke dua forum besar secara berturut-turut, banyak pihak memandang momen ini sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan diplomasi ekonomi dan menegaskan posisi sebagai pemain aktif dalam tata ekonomi global.

Perak Bukan Akhir, Timnas Voli Putri Indonesia Siap Kejar Emas

Jakarta — Keberhasilan Timnas Voli Putri Indonesia meraih medali perak menjadi sorotan utama. Namun di balik gemerlapnya raihan tersebut, lebih besar makna yang disematkan oleh pelatih Marcos Sugiyama, yang menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah ujung perjalanan — melainkan sebuah pijakan untuk mencetak prestasi yang lebih tinggi ke depan.

Sugiyama mengungkapkan bahwa timnya telah menunjukkan transformasi nyata dalam hal mental dan kerja sama lapangan. Meski berhadapan dengan lawan yang secara historis berada di level lebih tinggi, para pemain berhasil menampilkan karakter juang yang membangkitkan optimisme. Ini ditandai dengan cara mereka merespon tekanan, memperbaiki pola permainan, dan mempertahankan kompaknya tim di momen‑momen krusial.

Sang pelatih menekankan pula bahwa medali perak bukanlah hasil yang diraih secara kebetulan. Proses panjang telah dilalui: pemusatan latihan fisik dan teknik yang intens, adaptasi strategi, serta pembentukan mental bertanding yang matang. Semua elemen ini menyatu sehingga tim berhasil duduk di podium. Namun, Sugiyama menegaskan, “Bangga boleh, puas belum” — karena masih terdapat gap yang harus diperlebar jika ingin naik ke tangga tertinggi.

Di sisi lain, raihan perak ini membawa dampak positif bagi olahraga voli nasional. Pencapaian ini memicu sorotan lebih besar terhadap pengembangan talenta muda, peningkatan fasilitas, serta penguatan kompetisi domestik yang mampu melecut persaingan. Dengan momentum ini, harapannya tidak hanya mempertahankan posisi, tetapi juga mencetak emas di kejuaraan‑kejuaraan berikutnya.

Akhirnya, Sugiyama mengajak seluruh elemen — mulai dari federasi, klub, hingga suporter — untuk bersama menjaga kepercayaan dan semangat yang sudah dibangun. Ia percaya bahwa jika kerja keras dan komitmen ini dipertahankan, maka perjalanan Timnas Voli Putri Indonesia menuju puncak baru baru saja dimulai.

Radja Nainggolan Sebut Bisa Pilih Perkuat Timnas Indonesia daripada Belgia

Eks pemain tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, kembali menyentuh topik yang menyedot perhatian publik sepak bola Indonesia: kemungkinannya memilih memperkuat Timnas Indonesia daripada tetap dengan jalinan hubungannya bersama Timnas Belgia di masa lalu.

Nainggolan mengungkap bahwa apabila dirinya “didekati lebih awal” oleh pihak Indonesia, ia tidak menutup kemungkinan akan memilih mengenakan seragam Garuda. “Dulu, Indonesia belum berada di titik‑ini. Tetapi jika waktu itu situasinya seperti sekarang, mungkin saya akan membuat keputusan berbeda,” ujarnya dalam kesempatan wawancara yang dilaksanakan saat kunjungannya ke Tanah Air.

Dengan latar belakang darah Batak dari sang ayah dan karier profesional di Eropa yang mengukuhkan reputasi sebagai gelandang tangguh, Nainggolan menyoroti bahwa pilihan negara untuk pemain berdarah Indonesia menjadi lebih fleksibel saat ini — baik dari sisi liga, eksposur media maupun infrastruktur. Ia menambahkan bahwa faktor emosional dan identitas kerap menjadi penentu dalam keputusan besar seperti membela sebuah negara di level internasional.

Meski demikian, ia bersikap realistis ketika membandingkan peluang Timnas Indonesia dengan Belgia pada masa awal kariernya. “Ketika saya memulai di timnas, Anda melihat skala dan kondisi Federasi Bola di Indonesia belum seperti sekarang,” ungkap Nainggolan, seolah memberi penghormatan kepada langkah kemajuan yang sudah dicapai PSSI dan sepak bola nasional.

Kendati pernyataannya mengundang spekulasi tentang potensi naturalisasi maupun perubahan kewarganegaraan di kalangan pemain keturunan, Nainggolan tetap menegaskan bahwa keputusannya pada akhirnya ditentukan oleh aspek profesional dan kesiapan sistem di negara yang bersangkutan. “Bukan hanya soal DNA, tapi soal bagaimana Anda bisa memberi nilai tambah dan berada di lingkungan yang mendukung,” ucapnya.

Dengan situasi seperti ini, publik Indonesia kembali menyoroti tema “pemain berdarah luar” dan pilihan memperkuat Timnas Garuda sebagai langkah strategis untuk memperkuat tim nasional. Bagi Nainggolan, cerita ini bukan hanya soal satu individu — melainkan soal bagaimana identitas, kesempatan, dan momen bertemu.

Timnas U-17 Indonesia Siap Tampil di Piala Dunia 2025, Nova Arianto Bawa 4 Pemain Diaspora

Jakarta — Pelatih Timnas U17 Indonesia, Nova Arianto, akhirnya menetapkan 21 pemain untuk menjalani tugas di Piala Dunia U‑17 2025 yang berlangsung di Qatar mulai 3 hingga 27 November 2025. Menariknya, komposisi skuad kali ini menampilkan empat pemain diaspora yang berkarier di luar Indonesia — sebuah langkah strategis untuk menghadirkan kekuatan baru dalam lini muda nasional.

Keempat pemain diaspora tersebut ialah:

  • Mike Rajasa Hoppenbrouwers — kiper yang memperkuat akademi FC Utrecht (Belanda)
  • Mathew Baker — gelandang bertahan dari Melbourne City (Australia)
  • Eizar Jacob Tanjung — bek yang berkarier bersama Sydney FC (Australia)
  • Lucas Lee — pemain yang memperkuat Ballistic United (AS)

Langkah ini mendapat perhatian karena sebelumnya dilakukan pemanggilan yang lebih besar terhadap pemain keturunan ­— misalnya sembilan pemain diaspora sempat dipanggil dalam pemusatan latihan.

Menurut pengamat, pemanggilan pemain luar negeri ini tak hanya soal bakat, tetapi juga soal meningkatkan daya saing tim di level dunia dimana lawan-lawan memiliki keunggulan postur, fisik, maupun pengalaman internasional.

Tim besutan Nova akan bergabung di Grup H, bersama Brasil U17 (juara empat kali), Honduras U17, dan debutan Zambia U17 — sebuah grup yang dipandang sebagai tantangan besar bagi skuad muda Indonesia.

Nova menyatakan bahwa kombinasi antara pemain-lama dan talenta baru (termasuk diaspora) dirancang agar skuad bisa menjaga kontinuitas sekaligus mengejar lompatan kualitas. Proses seleksi termasuk TC (training camp) dan persiapan matang di dalam dan luar negeri menjadi bagian dari agenda tim.

Dengan demikian, momentum Piala Dunia U-17 kali ini bukan sekadar debut atau tugas rutin, tetapi diharapkan menjadi batu loncatan bagi sepak bola muda Indonesia untuk “naik kelas” — baik dari segi pengalaman internasional maupun kualitas individu para pemain muda.—

Jordy Wehrmann Tegaskan Siap Bela Timnas Indonesia: “Tinggal Tunggu Keputusan PSSI”

Sebagai pemain berdarah Indonesia-Belanda yang saat ini memperkuat Madura United di Liga 1, Jordy Wehrmann menegaskan keinginannya untuk memperkuat Timnas Indonesia. Dia mengaku sudah menjalin komunikasi awal dengan PSSI dan siap memberikan kontribusi berarti bila kesempatan itu datang.

Dilahirkan di Den Haag pada 25 Maret 1999, Wehrmann memiliki garis keturunan Indonesia dari pihak ibunya. Ia pernah memperkuat tim junior Belanda, namun kini memilih menjejak karier profesional di Indonesia dan menyambungkan identitas dengan tanah leluhurnya.

Wehrmann mengungkapkan bahwa keinginannya untuk membela Timnas Indonesia bukanlah sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan keluarganya. “Saya sangat ingin mengenakan seragam Garuda,” ungkapnya ketika diwawancara.

Sebelumnya, proses naturalisasinya sempat tertunda akibat faktor timing — ia menjelaskan bahwa saat tawaran datang, ia sedang dalam proses perpindahan klub dan memilih fokus pada kariernya. Kini, dengan status sebagai pemain Madura United dan karier yang semakin stabil, Wehrmann merasa lebih siap daripada sebelumnya. Ia menyatakan bahwa keputusan akhir kini sepenuhnya berada di tangan PSSI.

Jika kesempatan itu terwujud, kehadiran Wehrmann diyakini akan memperkuat lini tengah Timnas Indonesia berkat pengalamannya di Eropa dan fleksibilitas posisi gelandang. Namun, tantangan administratif dan regulasi naturalisasi masih menjadi hambatan yang harus diselesaikan bersama.

Dengan latar belakang yang unik dan semangat yang tinggi, Jordy Wehrmann menjadikan mimpi membela Timnas Indonesia sebagai target nyata—bukan sekadar wacana. Waktu dan komitmen menjadi kunci agar impian ini bisa terwujud.

Timnas U22 Indonesia Siap Tampil di FIFA Matchday November, Indra Sjafri Apresiasi Kesempatan

JAKARTA – Tim Nasional U22 Indonesia akan kembali tampil di ajang FIFA Matchday pada November mendatang. Pelatih Indra Sjafri menyambut positif kesempatan ini sebagai momentum penting untuk mengukur kesiapan tim muda Garuda dalam menghadapi kompetisi internasional.

Indra Sjafri menilai bahwa partisipasi dalam FIFA Matchday memberikan pengalaman berharga bagi para pemain muda Indonesia. “Ini adalah kesempatan emas bagi pemain muda untuk mengasah kemampuan dan mental bertanding mereka di level internasional,” ujar Indra.

Meskipun lawan yang akan dihadapi belum diumumkan, Indra optimistis bahwa laga ini akan menjadi ajang evaluasi yang baik bagi tim. “Kami berharap dapat memaksimalkan laga ini untuk persiapan menuju turnamen-turnamen besar mendatang,” tambahnya.

Para pemain juga menunjukkan antusiasme tinggi menyambut laga internasional ini. “Kami siap memberikan yang terbaik dan belajar dari setiap pertandingan,” kata salah satu pemain inti Timnas U22.

Dengan persiapan matang dan semangat juang tinggi, Timnas U22 Indonesia berharap dapat tampil maksimal dan meraih hasil positif di ajang FIFA Matchday November mendatang.

Erick Thohir Tegaskan Shin Tae-yong Tak Akan Kembali Tangani Timnas Indonesia

Jakarta — Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Ketua Umumnya, Erick Thohir, memastikan bahwa pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, tidak akan kembali memimpin skuad nasional Indonesia.
Thohir menyatakan keputusan tersebut adalah buah dari evaluasi menyeluruh terhadap performa tim serta kebutuhan strategis ke depan, bukan sekadar perubahan mendadak. Sebelumnya Shin memulai masa tugasnya memimpin timnas sejak akhir 2019 dan selama kurun tersebut telah membawa sejumlah progress, namun PSSI akhirnya menilai bahwa tantangan berikutnya mensyaratkan kepemimpinan baru.

Dalam konferensi pers, Thohir menegaskan bahwa PSSI berkomitmen menyediakan pelatih yang mampu menerapkan strategi yang disetujui para pemain, membangun komunikasi yang lebih terbuka, dan menjalankan program yang lebih matang untuk mewujudkan target kejuaraan. Pengakhiran kerja sama dengan Shin diumumkan secara resmi pada 6 Januari 2025.

Sementara itu, Shin Tae-yong sendiri dalam beberapa kesempatan mengisyaratkan kesediaannya untuk kembali bila ada tawaran dan kondisi yang tepat, namun hingga saat ini tidak ada ruang nyata yang dibuka oleh PSSI.

PSSI kini memfokuskan diri mencari figur yang dapat membawa tim nasional melangkah lebih jauh — bukan hanya sekadar memperbaiki hasil, tapi juga menciptakan fondasi jangka panjang untuk sepak bola Indonesia.