Generasi Muda Diminta Tak Hanya Jadi Penonton, tapi Pemain Aktif di Panggung Politik dan Globalisasi
Jakarta – Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, perhatian kini tertuju pada generasi muda sebagai salah satu kunci penggerak masa depan bangsa. Pangkalnya bukan hanya soal usia atau angka demografis, tetapi soal kapasitas untuk memahami dan memanfaatkan dinamika politik nasional serta pergeseran global yang lebih besar.
Beberapa tokoh menyebut bahwa generasi muda harus lebih dari sekadar penonton: mereka harus menjadi pelaku, pengkritik, dan pengawal perubahan. Misalnya, Zainal Arifin Mochtar dari Universitas Gadjah Mada menyebut bahwa generasi X dan Z memiliki porsi besar dalam pemilih dan karenanya memiliki tanggung-jawab bukan hanya memilih tetapi juga memahami mekanisme demokrasi.
Kenapa Pemahaman Kini Vital?
- Struktur politik nasional terus berubah: dari realokasi kekuasaan, pergeseran ideologi, hingga digitalisasi proses politik—generasi muda harus menyadari bagaimana dan mengapa perubahan itu berlangsung.
- Di tataran global, gejolak seperti persaingan kekuatan besar (global powers), arus geopolitik multipolar, hingga pengaruh media digital dan disinformasi, memerlukan generasi muda yang punya kesadaran geopolitik. Contohnya: TB. Ace Hasan Syadzily dari Lembaga Ketahanan Nasional menegaskan bahwa generasi muda harus memahami posisi Indonesia di era multipolar.
- Partisipasi politik tidak hanya lewat mencoblos atau berunjuk rasa — literasi politik yang baik, kemampuan melihat konteks, serta keterlibatan aktif dalam kebijakan publik menjadi penting. Studi menunjukkan bahwa rendahnya literasi politik di kalangan muda bisa menghambat efektivitas partisipasi mereka.
Tantangan yang Hadir
Meski banyak peluang, terdapat sejumlah tantangan nyata:
- Apatisme atau rasa tidak percaya terhadap politik masih tinggi di kalangan muda—mereka merasa politik “jauh”, “kotor”, atau tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
- Arus informasi yang sangat cepat dan seringkali tidak terverifikasi membuat generasi muda rentan terhadap disinformasi, yang berdampak pada pengambilan keputusan politik atau sosial yang kurang kritis.
- Menggabungkan pemahaman lokal-nasional dengan perspektif global bukanlah hal mudah. Banyak generasi muda yang aktif global secara daring tetapi kurang tertaut secara nyata dengan politik atau kebijakan lokal.
- Akses dan kualitas pendidikan politik serta literasi politik di banyak daerah masih terbatas, sehingga kemampuan memahami dinamika politik nasional dan global belum merata.
Arah Peran yang Bisa Diambil Generasi Muda
Untuk menjawab tantangan tersebut, generasi muda diantaranya bisa:
- Memperkuat literasi politik dan literasi media (kemampuan menilai berita, memahami mekanisme politik, dan membaca konteks global).
- Mengembangkan jejaring dan kolaborasi — antara pelajar/mahasiswa, organisasi pemuda, komunitas lokal hingga aktor global — agar suara mereka tidak tersekat namun bisa masuk ke ruang kebijakan.
- Menjalankan peran aktif dalam masyarakat: bukan hanya “menonton” politik, tapi ikut dalam diskusi publik, advokasi kebijakan, pemantauan pemerintahan, serta inisiatif lokal yang punya efek global.
- Memadukan semangat global dengan kesadaran lokal: memahami isu-global seperti perubahan iklim, ekonomi digital, atau persaingan geopolitik , namun juga memastikan peran dan kepentingan Indonesia serta daerahnya tetap didengar dan diperhitungkan.

