Erick Thohir Tegas: Hentikan Bully terhadap Pemain Timnas, Mereka Bukan Robot

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengeluarkan peringatan tegas kepada publik dan media terkait tren perundungan (bullying) yang menimpa pemain-pemain tim nasional Indonesia, khususnya generasi muda. Dengan nada serius, ia menekankan bahwa kritik masih boleh dan bahkan diperlukan, tetapi ketika kritik berubah menjadi serangan personal atau pelecehan, maka hal itu sudah melanggar batas dan justru merugikan masa depan sepak bola nasional.

Dalam pernyataannya yang disampaikan di Jakarta, Thohir menyoroti bagaimana para pemain muda — beberapa di antaranya baru berusia belasan tahun — kerap menjadi sasaran hujatan atau ejekan rupa-rupa di media sosial dan pemberitaan, akibat kesalahan di lapangan. “Pemain sehebat apapun pasti di satu titik ada kondisi dia maksimal dan kadang tidak maksimal, dia manusia bukan robot,” ujarnya.

Lebih jauh, Erick mengajak semua pihak—including suporter, netizen, klub, dan media—untuk “naik kelas” bersama pembangunan sepak bola nasional. Ia menegaskan bahwa generasi muda seperti para skuad U-17, U-20, dan U-23 adalah aset bangsa yang harus dilindungi, bukan dihakimi secara berlebihan. “Kalau terus diserang dan di-bully, bagaimana mereka bisa berkembang?” tambahnya.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan publik yang cukup tinggi terhadap performa tim nasional. Namun Thohir menegaskan bahwa tekanan tidak boleh berubah menjadi elemen destruktif yang mematahkan motivasi atau karier pemain-muda. Dalam konteks ini, dia juga menyoroti peran media sebagai benteng moral: media memiliki tanggung jawab untuk memberikan kritik yang konstruktif, bukan sekadar mengekspos atau memperburuk kondisi mental atlet.

Dengan demikian, pesan utama Erick Thohir ialah: dukungan dan kritik harus berjalan berdampingan, tetapi perundungan harus dihentikan agar iklim sepak bola Indonesia bisa tumbuh sehat dan berkelanjutan.