Prabowo Ajak Negara APEC Perkuat Kerja Sama Hadapi Penipuan dan Pencucian Uang

Jakarta — Di tengah dinamika ekonomi global yang kian ditandai oleh kejahatan siber dan kejahatan transnasional, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh anggota APEC untuk memperkuat kolaborasi dalam memerangi dua tantangan besar: penipuan lintas negara dan pencucian uang. Pernyataan itu ia sampaikan ketika menghadiri salah satu sesi APEC yang mengangkat agenda keamanan ekonomi dan stabilitas keuangan regional.

Dalam paparan yang disampaikan secara terbuka, Prabowo menekankan bahwa kejahatan seperti skema penipuan daring, layanan keuangan gelap yang memanfaatkan aset kripto, hingga aliran dana hasil kejahatan—tidak bisa lagi ditangani secara nasional atau parsial. Ia mengingatkan bahwa negara‑negara kawasan Asia‑Pasifik harus bergerak lebih cepat, saling berbagi data, memperkuat regulasi, dan memanfaatkan teknologi untuk “menangkap” pola baru kejahatan keuangan.

“Saya percaya bahwa tantangan kita saat ini bukan saja soal persaingan ekonomi antar negara, tetapi juga ancaman bersama yang bisa menghancurkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan,” ujar Prabowo. Sejalan dengan itu, ia mengajak negara anggota APEC untuk menjadikan kerja sama pengawasan keuangan dan intelijen lintas negara sebagai prioritas utama dalam kerangka stabilitas ekonomi kawasan.

Ia memberi contoh modus‑operandi yang kian kompleks: penipuan dengan skema investasi palsu yang menjangkau beberapa negara sekaligus, penggunaan jaringan pembayaran digital tanpa pengawasan, serta aliran dana hasil kejahatan yang bergerak cepat dan sulit dilacak. Menurutnya, tanpa mekanisme kerja sama yang solid antarnegara, “yang akan kalah adalah integritas pasar dan pelaku usaha yang bersih”.

Sebagai langkah konkret, Prabowo menyebut pentingnya tiga pilar kerjasama: pertama, pertukaran cepat informasi antar lembaga intelijen keuangan dan penegak hukum; kedua, harmonisasi regulasi yang memungkinkan penegakan hukum di satu negara bisa dipadukan dengan tindakan di negara lain; ketiga, pengembangan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia agar dapat menangani kejahatan keuangan baru yang berbasis digital.

Dia juga menyoroti bahwa Indonesia sendiri telah menghadapi tantangan dalam penipuan daring dan aliran dana kejahatan internasional, sehingga pengalaman tersebut bisa dibagikan sebagai pembelajaran bagi anggota APEC. Dengan demikian, forum APEC bisa menjadi wadah tidak hanya bagi kerjasama ekonomi, tetapi juga kerjasama keamanan dan penegakan hukum lintas‑batas.

Permintaan Presiden ini mendapat tanggapan positif dari sejumlah delegasi negara peserta yang hadir, yang menyatakan kesiapan mereka untuk mengejar cetak biru (blueprint) kerja sama yang lebih konkret. Meski begitu, Prabowo mengingatkan bahwa tanpa tindak lanjut yang cepat, “pesan baik” dalam forum seperti APEC akan tetap menjadi retorika. Ia menegaskan: “Kita harus mulai dari tindakan, bukan hanya janji.”