Juventus Akhiri Kerja Sama dengan Igor Tudor Setelah Rentetan Hasil Buruk

Turin — Klub raksasa Italia, Juventus, secara resmi mengumumkan pemecatan pelatih kepala Igor Tudor bersama tiga stafnya setelah penampilan mengecewakan yang terus menukik.

Tudor, yang sebelumnya sempat memberi harapan dengan membawa Juventus finis di urutan ke-empat Serie A musim lalu, kini harus angkat kaki setelah timnya melalui delapan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi.

Dalam pengumumannya, Juventus menyebut bahwa staf Tudor — yakni Ivan Javorcic, Tomislav Rogic, dan Riccardo Ragnacci — juga ikut diberhentikan.

Kekalahan terakhir Juventus yaitu 0-1 dari Lazio menjadi pemicu utama keputusan ini, setelah sebelumnya juga kalah 0-2 dari Como dan tanpa mencetak gol dalam empat laga terakhirnya.

Manajemen kini menunjuk pelatih sementara dari tim Next Gen, Massimo Brambilla, untuk memimpin skuad sementara waktu sambil mencari pengganti permanen.

Sikap Tudor sebelum pemecatan memperlihatkan ketidakpeduliannya terhadap nasib jabatannya — ia menyatakan bahwa yang terpenting adalah memperbaiki kondisi tim, bukan memikirkan masa depan dirinya.

Pemecatan ini menandai langkah tegas Juventus dalam menghadapi krisis performa yang dianggap sudah melewati batas toleransi. Klub kini akan fokus memulihkan kepercayaan dan mengembalikan posisi mereka di papan atas kompetisi Italia.

Mendagri Tito: Sekda Adalah Jantung Birokrasi dan Kunci Sukses Pembangunan Daerah

Jakarta – Dalam sambutannya pada rapat koordinasi yang digelar di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa posisi sekretaris daerah (Sekda) memegang peranan vital dalam mewujudkan pembangunan daerah yang efektif dan pelayanan publik yang berkualitas.

Rakor yang mengusung tema “Sinkronisasi Program dan Kegiatan Kementerian/ Lembaga dengan Pemerintah Daerah 2025” ini dihadiri oleh para Sekda dan pimpinan Bappeda dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. Menurut Tito, Sekda merupakan “jantung birokrasi daerah” yang harus mampu menggerakkan roda pemerintahan agar anggaran — khususnya dari APBD — tersalur tepat dan berdampak nyata.

Tito juga menyinggung sejumlah praktik baik di daerah sebagai contoh sukses. Salah satu yang disorot adalah dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, di mana belanja birokrasi ditekan sehingga dana bisa dialihkan ke program-prioritas masyarakat. Di samping itu, ia menyebut mekanisme pendapatan asli daerah (PAD) yang ditangani dengan sistem lebih transparan juga menjadi kunci keberhasilan tanpa membebani rakyat.

Lebih lanjut, Tito mengingatkan bahwa daerah yang berhasil menangkap peluang dari program pusat – seperti infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan – sekaligus memiliki rekam jejak kepala daerah dan Sekda yang baik, akan lebih prioritas mendapat dukungan. Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan UMKM dan kerjasama sektor swasta sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi lokal.

Dalam hal pengawasan dan efisiensi anggaran, Kemendagri akan memanfaatkan sistem informasi pemerintahan daerah (SIPD) yang hasil pemantauannya akan ditayang secara live agar publik bisa ikut mengawasi. Tak hanya itu, Tito mengungkapkan bahwa dirinya bersama tiga wakil menteri akan melakukan kunjungan langsung ke daerah-daerah guna memantau pelaksanaan program.

Tito menutup dengan mengingatkan bahwa sinergi antara forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) dan kolaborasi dengan elemen masyarakat menjadi fondasi untuk keberhasilan program-prioritas nasional, seperti pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Menelusuri Jejak Tiga Gedung Saksi Lahirnya Sumpah Pemuda di Jakarta

Pada akhir Oktober 1928, di tengah semangat kebangkitan bangsa yang sedang tumbuh, sekelompok pemuda dari berbagai wilayah Hindia Belanda berkumpul untuk menegaskan satu visi bersama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Pertemuan–pertemuan itu digelar berturut-turut dalam tiga gedung berbeda di Batavia (sekarang Jakarta), yang kemudian menjadi saksi lahirnya ikrar bersejarah tersebut.

Pertemuan pertama berlangsung pada 27 Oktober 1928 di gedung Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di sinilah para pemuda mulai mengutarakan gagasan persatuan nasional melalui paparan-paparan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh pelajar.

Selanjutnya, pada pagi 28 Oktober 1928, rapat kedua digelar di gedung Gedung Oost‑Java Bioscoop di Jalan Medan Merdeka Utara. Di sini diskusi beralih ke tema pendidikan pemuda sebagai penopang masa depan bangsa: pendidikan kebangsaan, keseimbangan sekolah-rumah, serta demokrasi dalam didikan.

Akhirnya, pada hari yang sama (28 Oktober) sore, rapat ketiga dan penetapan ikrar berlangsung di gedung Gedung Indonesische Clubgebouw (Kramat Raya 106) — yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Di tempat inilah naskah ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda akhirnya disampaikan: “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; … berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; … menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Ketiga lokasi itu sekarang bukan hanya bangunan tua semata — tetapi simbol perjuangan dan persatuan. Misalnya, Gedung KJB yang masih berdiri dalam kompleks pendidikan Sekolah Santa Ursula, mempertahankan jejak bebangunan asli dengan sedikit modifikasi. Sementara gedung Oost-Java Bioscoop kini sudah tiada, namun lokasi-nya tetap dikenang sebagai titik penting dalam proses lahirnya Sumpah Pemuda.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, peringatan terhadap tanggal 28 Oktober dan tiga lokasi tersebut penting untuk mengingat bahwa persatuan bangsa tidak datang dengan mudah. Para pemuda — dari berbagai daerah, latar belakang etnis, dan organisasi — bersatu saat itu bukan hanya secara fisik tetapi secara ide: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.

Juventus Resmi Pecat Igor Tudor Usai Delapan Laga Tanpa Kemenangan

Juventus mengumumkan pemecatan Igor Tudor sebagai pelatih kepala tim utama pada 27 Oktober 2025, menyusul serangkaian hasil buruk yang membuat tim terpuruk di papan tengah Serie A. Tudor, yang ditunjuk pada Maret 2025 menggantikan Thiago Motta, sebelumnya telah menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2027 pada Juni lalu.

Namun, performa Juventus menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir. Tim gagal meraih kemenangan dalam delapan pertandingan berturut-turut di semua kompetisi, termasuk lima hasil imbang dan tiga kekalahan. Kekalahan terakhir terjadi pada 26 Oktober 2025, saat Juventus takluk 0-1 dari Lazio.

Selain hasil buruk, hubungan Tudor dengan Direktur Olahraga Damien Comolli juga dilaporkan memburuk, menambah tekanan pada posisi pelatih.

Sebagai langkah sementara, Massimo Brambilla, pelatih tim cadangan Juventus, ditunjuk sebagai pelatih interim. Brambilla akan memimpin tim dalam pertandingan melawan Udinese pada 29 Oktober 2025.

Juventus mengucapkan terima kasih kepada Igor Tudor dan stafnya atas dedikasi mereka dan mendoakan yang terbaik untuk karier mereka selanjutnya.

Pemprov DKI Pastikan Tarif Transjakarta Akan Disesuaikan, Fokus pada Kualitas Layanan

Jakarta —
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan akan ada penyesuaian tarif pada layanan Transjakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa kenaikan tarif ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan operasional dan kualitas layanan transportasi publik di ibu kota.

Pramono menjelaskan bahwa meskipun tarif mengalami penyesuaian, pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa layanan Transjakarta tetap terjangkau bagi masyarakat. “Kenaikan tarif ini adalah langkah strategis untuk memastikan Transjakarta dapat terus beroperasi dengan baik dan memberikan layanan terbaik bagi warga Jakarta,” ujarnya.

Selain itu, Pramono juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan, seperti penambahan armada, perbaikan infrastruktur halte, dan integrasi dengan moda transportasi lain, guna memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pengguna.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dengan adanya penyesuaian tarif ini, Transjakarta dapat terus menjadi pilihan utama masyarakat dalam mobilitas sehari-hari, serta mendukung upaya pengurangan kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

Kemendes Dorong Desa Bangun Ekonomi Hijau Lewat Pewarna Alami dan Wastra Nusantara

Jakarta —

Dalam upaya memperkuat ekonomi pedesaan sekaligus memajukan keberlanjutan lingkungan, Kemendes PDT menginisiasi program pengembangan pewarna alami sebagai salah satu dorongan bagi desa-desa untuk beralih ke ekonomi hijau. Pewarna alami yang digunakan dalam produksi kain tradisional seperti tenun dan batik dianggap memiliki potensi besar baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Menurut pejabat Kemendes, penggunaan pewarna sintetis selama ini tidak hanya mengikis kearifan lokal, tetapi juga meninggalkan dampak lingkungan. Dengan kembali pada teknik pewarnaan alam—menggunakan bahan baku tumbuhan, hewan, atau mineral—diharapkan desa-desa bisa menumbuhkan usaha berbasis wastra (kain tradisional) yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Program ini juga memuat aspek pendidikan dan pemberdayaan: Kemendes mendorong agar perajin dan pelaku usaha di desa mendapatkan edukasi tentang teknik pewarnaan alami, pengelolaan rantai produksi, hingga pemasaran wastra lokal ke pasar yang lebih luas. Hal ini menjadi penting agar usaha kecil di desa bukan hanya memproduksi secara tradisional, tetapi juga mampu berdaya saing.

Lebih jauh, inisiatif pewarna alami ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menggerakkan ekonomi desa secara inklusif. Desa-desa yang memiliki potensi bahan pewarna alami diminta untuk menjadikan pewarna tersebut sebagai bahan baku utama kain tradisional, sehingga tercipta link antara pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan.

Tantangan tentu ada: mulai dari ketersediaan bahan baku pewarna alami, adaptasi teknologi produksi yang baru, hingga akses pasar. Namun, Kemendes optimis jika sinergi antara pemerintah desa, pelaku usaha lokal, akademisi, dan sektor swasta berjalan baik, maka model ekonomi hijau di tingkat desa melalui wastra dan pewarna alami bisa tumbuh menjadi salah satu penggerak pembangunan nasional yang modern namun tetap berakar.

BGN Genjot Pembangunan 25.400 Unit SPPG untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis 2025

Jakarta —

Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan intensitas pembangunan jaringan fasilitas pelayanan gizi di seluruh tanah air guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Kepala BGN, Dadan Hindayana, lembaganya menargetkan pendirian hingga 25.400 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga akhir 2025.

Peningkatan skala ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menjangkau kelompok-rentan seperti ibu hamil, balita, siswa sekolah dasar, hingga santri di pondok pesantren. Setiap unit SPPG akan menjadi pusat pengolahan dan distribusi makanan bergizi yang disuplai oleh UMKM lokal dan mitra kerja sama pemerintah–swasta.

Menurut data BGN, per Mei 2025 telah berdiri 1.579 unit SPPG yang melayani sekitar 4,24 juta penerima manfaat.

Namun untuk mengejar target nasional sekitar 82,9 juta penerima manfaat tahun ini, percepatan pembangunan SPPG dinilai krusial.

Dadan menjelaskan bahwa lokasi SPPG akan difokuskan tidak hanya di wilayah urban, namun juga di daerah terpencil dan tertinggal. “Kami menetapkan minimal tiga unit SPPG per kabupaten/kota yang masuk kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar),” ujar Dadan.

Lebih jauh, program ini juga memiliki dampak ekonomi lokal. Setiap SPPG diperkirakan membutuhkan permintaan harian yang signifikan — misalnya ratusan kilogram sayur, buah, ratusan liter susu — yang sebagian besar disuplai oleh pelaku usaha mikro dan kecil di wilayah setempat.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Verifikasi mitra pembangunan SPPG, pengawasan mutu gizi dan distribusi, serta sinkronisasi antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta menjadi kunci apakah target ambisius ini bisa benar-benar tercapai. Dadan menyatakan optimis namun menegaskan bahwa “kita harus bekerja keras setiap hari”.

Dengan skema ini, BGN berharap bukan hanya memperluas akses makanan bergizi, tetapi juga memperkuat ketahanan gizi nasional dan memacu sektor ekonomi lokal — sambil memastikan bahwa setiap warga negara memperoleh hak atas pangan berkualitas.

Dokter: Melewatkan Sarapan dan Begadang Bisa Picu Naiknya Asam Lambung

Jakarta — Kebiasaan melewatkan sarapan dan beraktivitas larut malam ternyata dapat memicu naiknya asam lambung atau kondisi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Dokter ahli menyebut bahwa perut yang kosong terlalu lama serta waktu tidur yang berantakan bisa menjadi pemicu utama naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Menurut Hasan Maulahela, SpPD, Subsp. G.E.H(K) dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, dua faktor utama adalah: makan tidak teratur—khususnya perut dibiarkan kosong lama—dan kurang istirahat cukup. Kedua hal ini bisa menurunkan pengaturan asam lambung dan memperberat risiko kambuhnya GERD.

Kenapa sarapan terlambat atau tak sama sekali bisa jadi masalah

Perut yang tidak diisi sejak pagi menyebabkan lambung tetap bekerja memproduksi asam tanpa ada makanan yang harus dicerna. Hal ini memberi kesempatan bagi asam lambung untuk naik ke kerongkongan, menyebabkan sensasi terbakar (heartburn), mual, atau rasa penuh di ulu hati.

Selain itu, bagi pengidap GERD, sarapan justru membantu menetralkan lingkungan di lambung seiring tubuh “memulai” aktivitas pencernaan di pagi hari. Sebaliknya, melewatkan sarapan dapat memperburuk kondisi.

Begadang dan waktu tidur yang tak teratur: faktor tambahan

Aktivitas malam yang panjang atau tidur larut memungkinkan perut kosong untuk waktu lama serta jam biologis tubuh yang terganggu. Kombinasi ini menekan sistem pencernaan yang sudah bekerja ekstra. Sebagai hasilnya, fungsi katup antara lambung dan kerongkongan (sfingter esofagus bawah) bisa melemah, memberi jalan bagi asam lambung naik.

Rekomendasi dokter untuk menekan risiko

  • Pastikan sarapan setiap pagi, idealnya dalam waktu 1–2 jam setelah bangun tidur.
  • Hindari makan besar terlalu larut malam atau langsung sebelum tidur.
  • Beri jeda 2-3 jam antara makan terakhir dan tidur agar pencernaan berjalan lebih ringan.
  • Pilih menu sarapan yang mudah dicerna: hindari gorengan, makanan terlalu pedas atau berlemak tinggi, serta minuman berkafein saat perut kosong.
  • Tetapkan waktu tidur yang cukup dan konsisten agar tubuh bisa pulih serta sistem pencernaan dapat bekerja optimal.

Dengan memperbaiki dua kebiasaan sederhana tersebut—sarapan tepat waktu dan tidur cukup—anda dapat menurunkan risiko naiknya asam lambung secara signifikan. Jika gejala seperti heartburn, regurgitasi (naiknya asam ke kerongkongan), atau kesulitan menelan terus muncul, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis pencernaan.

Timnas U-17 Indonesia Siap Tampil di Piala Dunia 2025, Nova Arianto Bawa 4 Pemain Diaspora

Jakarta — Pelatih Timnas U17 Indonesia, Nova Arianto, akhirnya menetapkan 21 pemain untuk menjalani tugas di Piala Dunia U‑17 2025 yang berlangsung di Qatar mulai 3 hingga 27 November 2025. Menariknya, komposisi skuad kali ini menampilkan empat pemain diaspora yang berkarier di luar Indonesia — sebuah langkah strategis untuk menghadirkan kekuatan baru dalam lini muda nasional.

Keempat pemain diaspora tersebut ialah:

  • Mike Rajasa Hoppenbrouwers — kiper yang memperkuat akademi FC Utrecht (Belanda)
  • Mathew Baker — gelandang bertahan dari Melbourne City (Australia)
  • Eizar Jacob Tanjung — bek yang berkarier bersama Sydney FC (Australia)
  • Lucas Lee — pemain yang memperkuat Ballistic United (AS)

Langkah ini mendapat perhatian karena sebelumnya dilakukan pemanggilan yang lebih besar terhadap pemain keturunan ­— misalnya sembilan pemain diaspora sempat dipanggil dalam pemusatan latihan.

Menurut pengamat, pemanggilan pemain luar negeri ini tak hanya soal bakat, tetapi juga soal meningkatkan daya saing tim di level dunia dimana lawan-lawan memiliki keunggulan postur, fisik, maupun pengalaman internasional.

Tim besutan Nova akan bergabung di Grup H, bersama Brasil U17 (juara empat kali), Honduras U17, dan debutan Zambia U17 — sebuah grup yang dipandang sebagai tantangan besar bagi skuad muda Indonesia.

Nova menyatakan bahwa kombinasi antara pemain-lama dan talenta baru (termasuk diaspora) dirancang agar skuad bisa menjaga kontinuitas sekaligus mengejar lompatan kualitas. Proses seleksi termasuk TC (training camp) dan persiapan matang di dalam dan luar negeri menjadi bagian dari agenda tim.

Dengan demikian, momentum Piala Dunia U-17 kali ini bukan sekadar debut atau tugas rutin, tetapi diharapkan menjadi batu loncatan bagi sepak bola muda Indonesia untuk “naik kelas” — baik dari segi pengalaman internasional maupun kualitas individu para pemain muda.—

Pramono Anung Dorong M Bloc Hub Jadi Pusat Kreativitas Anak Muda Jakarta

Jakarta — Gubernur Pramono Anung menegaskan ambisinya menjadikan kawasan M Bloc Hub sebagai pusat kreativitas anak-muda di Ibu Kota. Ia melihat lokasi tersebut bukan hanya sebagai area komersial atau hiburan biasa, tetapi sebagai ruang kolaborasi, inovasi, dan ekspresi budaya yang akan menggerakkan generasi muda Jakarta ke arah produktif.

Menurut Pramono Anung, M Bloc Hub memiliki potensi kuat untuk menjadi “jantung kreativitas”, karena terletak di jantung kota, mudah diakses, serta sudah mulai diisi oleh berbagai aktivitas seni, musik, kafe, serta ruang kreatif lainnya. Dari situ, ia ingin menciptakan momentum agar para anak muda bisa berkumpul, berkreasi, berkarya, dan akhirnya tumbuh menjadi penggerak ekonomi kreatif lokal.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberadaan kawasan seperti M Bloc Hub juga mempunyai fungsi sosial penting: menyediakan alternatif positif bagi anak-muda yang selama ini mungkin mencari outlet di jalur yang kurang produktif. Dengan kata lain, kawasan ini diharapkan menjadi magnet untuk aktivitas yang membangun — baik seni, wirausaha kreatif, komunitas, maupun ekspresi budaya — sekaligus menekan angka kegiatan negatif yang bisa muncul akibat kurangnya ruang publik yang memadai.

Untuk mendukung visi tersebut, Pemprov DKI telah menginstruksikan penyediaan fasilitas pendukung: ruang terbuka untuk pertunjukan, workshop, galeri pop-up, hingga akses transportasi yang memadai agar kawasan ini mudah dijangkau dari berbagai sudut kota. Ia juga meminta pelaku usaha di sekitar serta komunitas lokal agar terlibat aktif, agar ekosistem kreatif di M Bloc Hub tidak hanya menjadi “tempat nongkrong”, melainkan “lahan subur” bagi ide-ide baru, startup kreatif, serta kolaborasi lintas disiplin.

Pramono menutup pernyataannya dengan harapan agar generasi muda Jakarta tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku — aktif menciptakan sesuatu yang unik, yang mencerminkan identitas dan budaya kota, dan pada akhirnya mendukung Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada kreativitas dan budaya lokal.