Kemendes Dorong Desa Bangun Ekonomi Hijau Lewat Pewarna Alami dan Wastra Nusantara
Jakarta —
Dalam upaya memperkuat ekonomi pedesaan sekaligus memajukan keberlanjutan lingkungan, Kemendes PDT menginisiasi program pengembangan pewarna alami sebagai salah satu dorongan bagi desa-desa untuk beralih ke ekonomi hijau. Pewarna alami yang digunakan dalam produksi kain tradisional seperti tenun dan batik dianggap memiliki potensi besar baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
Menurut pejabat Kemendes, penggunaan pewarna sintetis selama ini tidak hanya mengikis kearifan lokal, tetapi juga meninggalkan dampak lingkungan. Dengan kembali pada teknik pewarnaan alam—menggunakan bahan baku tumbuhan, hewan, atau mineral—diharapkan desa-desa bisa menumbuhkan usaha berbasis wastra (kain tradisional) yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Program ini juga memuat aspek pendidikan dan pemberdayaan: Kemendes mendorong agar perajin dan pelaku usaha di desa mendapatkan edukasi tentang teknik pewarnaan alami, pengelolaan rantai produksi, hingga pemasaran wastra lokal ke pasar yang lebih luas. Hal ini menjadi penting agar usaha kecil di desa bukan hanya memproduksi secara tradisional, tetapi juga mampu berdaya saing.
Lebih jauh, inisiatif pewarna alami ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menggerakkan ekonomi desa secara inklusif. Desa-desa yang memiliki potensi bahan pewarna alami diminta untuk menjadikan pewarna tersebut sebagai bahan baku utama kain tradisional, sehingga tercipta link antara pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Tantangan tentu ada: mulai dari ketersediaan bahan baku pewarna alami, adaptasi teknologi produksi yang baru, hingga akses pasar. Namun, Kemendes optimis jika sinergi antara pemerintah desa, pelaku usaha lokal, akademisi, dan sektor swasta berjalan baik, maka model ekonomi hijau di tingkat desa melalui wastra dan pewarna alami bisa tumbuh menjadi salah satu penggerak pembangunan nasional yang modern namun tetap berakar.

