Eksepsi Ditolak, Sidang Kasus Korupsi Sampah Tangsel Rp21,6 Miliar Lanjut ke Tahap Pembuktian

Jakarta — Sidang perkara dugaan korupsi pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memasuki babak baru setelah majelis hakim menolak keberatan (eksepsi) yang diajukan pihak terdakwa. Langkah ini membuka jalan bagi proses pembuktian dakwaan oleh jaksa penuntut umum.

Kasus ini bermula pada anggaran tahun 2024 di Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan yang mengalokasikan sekitar Rp 75,9 miliar untuk jasa layanan pengangkutan dan pengelolaan sampah yang dikerjakan oleh sebuah perusahaan swasta. Penyidik menemukan bahwa perusahaan pemenang tender diduga tidak memiliki kapasitas untuk melakukan seluruh pekerjaan sesuai kontrak, dan sampah akhirnya dibuang ke tempat-tempat yang tidak sesuai dengan ketentuan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dalam hasil audit, kerugian keuangan negara ditaksir mencapai Rp 21,6 miliar. Empat tersangka pun telah ditetapkan, termasuk mantan Kepala DLH Tangsel berinisial WL, Direktur perusahaan pelaksana berinisial SYM, Kepala Bidang Kebersihan DLH TAKP, dan staf DLH sebelumnya ZY.

Penolakan eksepsi oleh majelis hakim menunjukkan bahwa dakwaan jaksa dinilai telah memenuhi persyaratan formil dan materiil serta tidak hanya menyinggung hal teknis prosedur. Dengan demikian, persidangan akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi dan bukti. Dokumen dugaan persekongkolan, aliran dana, serta perubahan titik pembuangan sampah menjadi sorotan utama dalam pembuktian ke depan.

Para pihak berpendapat bahwa hasil sidang ini menjadi momentum penting dalam menegakkan integritas pengelolaan anggaran publik dan pengelolaan lingkungan hidup di tingkat daerah. Warga Tangsel yang sebelumnya mengeluhkan tumpukan sampah di beberapa titik berharap agar proses hukum berjalan transparan dan memberi efek jera.

Liverpool Pesta Gol 5-1 atas Frankfurt, Mo Salah Justru Dihujat karena Main Egois

Jakarta – Liverpool akhirnya membuka lembar baru usai empat kekalahan beruntun di semua kompetisi dengan kemenangan impresif 5-1 atas Eintracht Frankfurt di Stadion Deutsche Bank Park, Frankfurt, pada Kamis dini hari WIB.

Babak Awal yang Menegangkan
Tuan rumah sempat unggul terlebih dulu melalui gol dari Rasmus Kristensen pada menit ke-26. Namun Liverpool segera bangkit: pada menit ke-35, Hugo Ekitike menyamakan skor lewat aksi individu, sebelum dua gol tambahan dari Virgil van Dijk dan Ibrahima Konaté memastikan keunggulan 3-1 di babak pertama.

Dominasinya Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Liverpool tak memberi celah. Cody Gakpo menambah gol ke-4 melalui assist dari Florian Wirtz, lalu Dominik Szoboszlai menutup pesta dengan gol ke-5. Hasil ini membuat Liverpool naik ke posisi ke-10 dalam klasemen Grup Liga Champions dengan 6 poin dari 3 pertandingan.

Sorotan Tersembunyi: Kritik terhadap Mohamed Salah
Sementara kemenangan jelas menjadi angin segar, ada sorotan negatif yang mengarah ke Mohamed Salah. Pemain asal Mesir itu memulai pertandingan dari bangku cadangan dan baru masuk menit ke-74. Momen yang memicu kritik terjadi pada menit ke-89: dalam situasi satu lawan satu, ia memilih menembak dari sudut sempit padahal rekan setimnya, Wirtz, berdiri bebas di depan gawang. Tembakan tersebut berhasil ditepis kiper, dan banyak fans menilai pilihan itu sebagai tindakan yang terlalu egois.
Beberapa komentar di media sosial menyebut:

“Ada yang bisa kasih vidio ini ke Mo Salah … jangan terlalu egois sama anak-anak baru.”
detikinet
“Masih mau tetap tampil, buat apa? Pembuktian? Malah bikin keliatan maksa.”
Reddit

Walaupun banyak fans yang tetap mendukung Salah, kritik seperti ini menunjukkan bahwa meskipun tim tampil hebat secara kolektif, perilaku individu tetap bisa menjadi pusat perhatian.

Apa Artinya untuk Liverpool?

  • Kemenangan 5-1 ini adalah sinyal bahwa Liverpool telah keluar dari masa sulit dan dapat tampil dominan kembali.
  • Namun, polemik kecil terhadap Salah mengingatkan bahwa transformasi tim bukan hanya soal strategi atau hasil, tetapi juga soal sinergi antar pemain dan bagaimana setiap individu berkontribusi dalam kerangka tim.
  • Pelatih Arne Slot mungkin melihat bahwa pengaturan skuat dan rotasi pemain menjadi semakin penting untuk menjaga keseimbangan tim.
  • Bagi Salah sendiri, momen ini bisa menjadi titik evaluasi: apakah ia akan menyesuaikan gaya bermainnya agar lebih sejalan dengan dinamika tim yang berubah, atau tetap mempertahankan pendekatan individualnya?
Proyek Miliaran di Bawaslu Disorot, Ketua Rahmat Bagja Bantah Terlibat Dugaan Kerugian Negara

Jakarta — Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Rahmat Bagja, kini menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai dua proyek besar di institusinya yang diduga menimbulkan kerugian negara. Proyek pertama adalah pembangunan “Command Center” senilai Rp 339 miliar, dan proyek kedua adalah renovasi Gedung A dan B Bawaslu yang bernilai hingga Rp 715 miliar. Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), total potensi kerugian negara dari kedua proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp 12,14 miliar.

Pelapor, kelompok masyarakat yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Arus Bawah Demokrasi (Gabdem), menuding terdapat ketidaksesuaian antara anggaran yang dialokasikan dengan hasil fisik yang dicapai. “Ketidaksesuaian antara alokasi anggaran dan hasil fisik yang tercapai menunjukkan adanya penyimpangan yang merugikan negara,” ujar Koordinator Gabdem, Guntur Harahap.

Sementara itu, Rahmat Bagja membantah tudingan keterlibatan langsung dalam penyimpangan tersebut. Ia menyatakan bahwa laporan yang menyebut dirinya memiliki keterlibatan adalah “tidak benar”.

Kasus ini kini dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan masyarakat mendesak agar penegak hukum segera melakukan penyelidikan menyeluruh termasuk memanggil para pihak yang diduga terlibat: Bagja sebagai penanggung jawab anggaran, serta pejabat pengadaan dan lainnya.

Pengembangan kasus ini menjadi penting karena menyentuh integritas lembaga pengawas pemilu dan penggunaan anggaran publik dalam proyek-infrastruktur internal. Publik berharap agar proses pengusutan berjalan transparan dan akuntabel sehingga tidak menimbulkan keraguan terhadap tata kelola keuangan di lembaga publik.

BPJS Kesehatan Hapus Tunggakan bagi Peserta yang Pindah Komponen, Pemerintah Pastikan Tepat Sasaran

Jakarta — Pemerintah kini tengah mengevaluasi kebijakan penghapusan tunggakan iuran di BPJS Kesehatan sebagai langkah strategis untuk mengaktifkan kembali peserta yang selama ini terhambat aksesnya karena tunggakan. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, menyebut bahwa fokus kebijakan ini adalah pada peserta yang telah berpindah komponen kepesertaan — misalnya dari segmen mandiri ke segmen penerima bantuan iuran (PBI) — namun masih tercatat memiliki tunggakan lama.

Menurut Ali Ghufron, pemutihan akan diberikan dengan syarat tepat sasaran, yakni hanya kepada kelompok peserta yang benar-benar tidak memiliki kemampuan finansial dan telah dialihkan statusnya menjadi PBI berdasarkan data resmi seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).Dia menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan merusak arus kas BPJS Kesehatan asalkan implementasinya terukur dan terverifikasi.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) memberi catatan penting agar pemutihan tunggakan tetap mengedepankan prinsip keadilan sosial. Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani, mengingatkan agar peserta yang selama ini taat bayar iuran tidak merasa dirugikan oleh kebijakan ini.

Besaran tunggakan yang menjadi target pemutihan dilaporkan telah melampaui angka Rp 10 triliun untuk lebih dari 23 juta peserta yang tercatat menunggak.Pemerintah akan mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme dan syarat penerapan agar penghapusan tunggakan ini dapat menjadi insentif bagi peningkatan kepatuhan dan tidak menurunkan disiplin pembayaran iuran.

Dengan langkah ini, diharapkan peserta yang selama ini berhenti aktif karena tunggakan dapat kembali mengakses layanan kesehatan melalui skema kepesertaan yang sesuai dengan kondisi sosial-ekonominya, serta memperkuat sistem jaminan kesehatan nasional agar lebih inklusif dan berkelanjutan.

Indonesia Ajak Negara OKI Investasi di Sektor Air Demi Pembangunan Berkelanjutan

Jakarta — Pemerintah Indonesia semakin agresif dalam mendorong kolaborasi internasional di sektor air bersih dengan menyasar negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) (OKI) sebagai mitra utama investasi dan pembangunan. Hal ini disampaikan oleh Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum (PU), dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini.

Menteri Dody menegaskan bahwa akses ke air bersih dan pengelolaan sumber daya air merupakan isu sentral tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-OKI lainnya yang menghadapi tantangan serupa: pertumbuhan populasi yang cepat, tekanan terhadap sumber daya alam, dan kebutuhan pembangunan infrastruktur yang besar. Ia memandang modal asing dan kemitraan internasional sebagai kunci mempercepat realisasi sistem penyediaan air minum yang merata dan berkelanjutan.

Menurut Kementerian PU, terdapat sejumlah proyek “siap jalan” (ready-to-go) yang telah diidentifikasi dan bisa ditawarkan kepada investor dari negara OKI—mulai dari pembangunan jaringan distribusi air minum, irigasi modern, hingga sistem pengolahan air limbah. Pendekatan tersebut juga diharapkan dapat mendatangkan efek berganda: memperkuat ketahanan pangan melalui irigasi, menciptakan lapangan kerja di daerah terpencil, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Lebih lanjut, pemerintah menegaskan bahwa investasi di sektor air bukan sekadar soal profit jangka pendek, melainkan bagian dari strategi nasional menuju visi “Indonesia Emas 2045”. Untuk itu, reformasi kelembagaan, peningkatan kapasitas operator air daerah, serta peningkatan teknologi dan efisiensi menjadi “jembatan” penting agar investasi yang masuk benar-benar berdampak besar.

Menteri menyampaikan harapan bahwa negara-negara OKI dengan pengalaman atau kebutuhan serupa akan menjadi mitra yang sinergis. “Kita berbicara tentang air sebagai enabler pembangunan: pendidikan, kesehatan, produktivitas,” ujarnya. Ia juga mengajak investor dan lembaga keuangan internasional untuk melihat sektor air di Indonesia—dan di negara-OKI lainnya—sebagai peluang investasi strategis yang sekaligus membawa manfaat sosial.

Dengan langkah ini, Indonesia berharap dapat menjadi “hub” regional untuk pengembangan infrastruktur air dan teknologi terkait bagi dunia Islam, sambil menjawab target nasional berupa cakupan air minum jaringan perpipaan yang lebih luas dan layanan sanitasi yang lebih baik.