BASARNAS Kajian Drone Kargo Listrik untuk Percepat Bantuan ke Daerah Terpencil

Jakarta – Dalam upaya meningkatkan efektivitas misi pencarian dan pertolongan, BASARNAS kini mempertimbangkan penggunaan drone kargo berbasis listrik sebagai bagian dari inovasi teknologi operasi kemanusiaan. Alat ini diharapkan menjadi pelengkap dalam skenario kirim logistik dan bantuan ke daerah terpencil atau akses sulit.

Menurut keterangan sumber internal, program studi awal mencakup analisis rute, kapasitas angkut, daya tempuh baterai, dan integrasi dengan sistem komando operasi. Implementasi drone kargo listrik diharapkan dapat mempercepat pengiriman perlengkapan medis, makanan, atau alat penyelamatan ke lokasi bencana tanpa tergantung akses darat atau laut yang terhambat.

Salah satu tantangan utama adalah kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam – gugusan pulau, pegunungan, lembah, dan daerah terpencil – yang seringkali mempersulit akses cepat saat bencana terjadi. Drone kargo listrik diyakini memiliki potensi untuk “lompat” ke titik‑titik yang sulit dijangkau, sehingga memperkuat respons awal tim SAR di lapangan.

Namun, kajian tersebut juga menyoroti sejumlah aspek yang harus diatasi. Pertama: daya baterai dan jangkauan. Drone listrik masih terbatas dari segi waktu terbang dan beban angkut dibandingkan kendaraan konvensional. Kedua: regulasi penerbangan dan ruang udara – untuk operasi kargo non‑komersial, izin khusus dan koordinasi dengan otoritas penerbangan essential. Ketiga: integrasi teknologi dan pelatihan personel – penggunaan drone tidak hanya soal perangkat keras, tetapi juga prosedur operasi standar, sistem komunikasi, dan manajemen logistik.

Lebih lanjut, slide internal menunjukkan bahwa program pengembangan ini akan dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama berupa pilot‑project di daerah rawan bencana atau “3T” (terdepan, tertinggal, terluar), jarak pendek‑menengah. Tahap selanjutnya, apabila berhasil, baru dipertimbangkan perluasan ke rute lebih panjang atau skala nasional.

Sebelumnya, BASARNAS telah menggunakan drone thermal dan drone fixed‑wing VTOL (Vertical Take‐Off and Landing) dalam operasi SAR untuk pemantauan dan pencarian korban. Rata‑rata waktu respons terhadap situasi darurat berdasarkan laporan terkini menunjukkan penurunan setelah penerapan teknologi drone yang ada.

Meski demikian, pengadaan dan pemeliharaan teknologi tinggi seperti drone kargo listrik menuntut anggaran yang cukup besar dan strategi pemanfaatan yang matang. Dalam laporan sebelumnya terbuka bahwa BASARNAS menghadapi tantangan anggaran untuk operasional sejumlah alat deteksi dan sistem pendukung yang ada.

Dengan demikian, langkah kajian drone kargo listrik ini menandakan bahwa BASARNAS berupaya memperluas kapasitas teknologinya—tidak hanya sebagai badan pencarian dan pertolongan tradisional, tetapi juga sebagai lembaga yang adaptif terhadap revolusi teknologi di bidang kemanusiaan. Bila berhasil, di masa depan misi bantuannya bisa lebih cepat, lebih jauh, dan lebih mandiri dalam menghadapi medan sulit.

Sembelit Bisa Jadi Masalah Serius, Ini 5 Kebiasaan Sepele Pemicu Utamanya

Jakarta – Bagi banyak orang, kesulitan BAB atau sembelit sering dianggap masalah ringan yang bisa diabaikan. Padahal, sejumlah pakar pencernaan menekankan bahwa kebiasaan sehari‑hari yang kerap dianggap sepele sebenarnya bisa menjadi pemicu utama kondisi tersebut.

Dokter spesialis gastroenterologi menyebut bahwa perubahan gaya hidup bisa berdampak nyata pada fungsi usus besar. Untuk contoh, kurang minum air secara memadai membuat tinja menjadi lebih kering dan keras sehingga susah untuk dikeluarkan secara optimal.

Begitu pula dengan asupan serat yang rendah: ketika makanan kaya serat minim dikonsumsi, kemampuan tubuh membentuk tinja yang cukup lunak dan mudah bergerak pun menurun.

Tak kalah penting, kondisi fisik seperti kurang bergerak atau aktivitas fisik yang rendah turut memperlambat gerak usus, sehingga menambah risiko susah BAB.

Kebiasaan menunda ketika merasakan keinginan BAB juga muncul sebagai pelaku utama. Ketika seseorang menahan keinginan untuk ke toilet, tinja tetap berada di dalam usus lebih lama, air diserap lebih banyak, dan akhirnya tinja menjadi keras serta lebih sulit dikeluarkan.

Kondisi stres atau perubahan rutinitas—misalnya saat bepergian, tidur berganti waktu, atau makan tak teratur—juga turut memainkan peran dalam memperlambat fungsi pencernaan.

Karena itu, para dokter menyarankan agar individu memperhatikan tanda‑tanda awal, seperti tinja yang keras, frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu, atau rasa belum selesai setelah BAB.

Jika gejala tersebut muncul dan berlangsung terus‑menerus, maka bukan hanya soal kenyamanan — kondisi itu bisa menjadi sinyal masalah yang lebih serius di saluran pencernaan.

Paparan kebiasaan sehari‑hari yang mudah diubah ini menjadi titik penting untuk pencegahan. Misalnya: meningkatkan asupan air dan sayuran/­buah, melakukan aktivitas fisik ringan secara rutin, serta menghindari menunda keinginan BAB. Dengan menerapkan perubahan tersebut, maka kemampuan usus untuk bergerak dan mengeluarkan tinja pun bisa kembali optimal — dan pengidap sembelit ringan bisa terhindar dari komplikasi yang lebih berat.

Louis van Gaal Resmi Tolak Latih Timnas Indonesia, PSSI Siapkan Opsi Lain

**Jakarta – ** Kabar mengejutkan datang dari ranah sepak bola nasional: setelah berhembus kuat selama beberapa pekan, Louis van Gaal akhirnya memastikan dirinya tidak akan mengambil alih posisi pelatih Timnas Indonesia. Meski sebelumnya rumor tersebut sempat membuat geger publik dan media, keputusan ini menegaskan bahwa besar kemungkinan federasi sepak bola Indonesia masih harus mencari sosok baru untuk mengarahkan skuad Garuda.

Van Gaal, yang memiliki jejak panjang di klub-klub top Eropa dan tim nasional Belanda, dulunya sempat dikaitkan dengan jabatan sebagai pelatih atau bahkan direktur teknis di Indonesia. Namun, berbagai analisis menunjukkan bahwa faktor usia — Van Gaal saat ini memasuki usia awal 70‑an — serta keinginannya untuk mengurangi aktivitas intens di lapangan seperti yang dilaporkan beberapa media Belanda, menjadi alasan kuat di balik keputusannya.

Sebelum pengumuman resmi, publik Indonesia sempat dibuat terkejut oleh unggahan jurnalis Spanyol yang memajang bendera Indonesia disertai kicauan seperti “Selamat Datang Louis van Gaal”—menyulut spekulasi baru bahwa pria Belanda itu akan segera menduduki kursi pelatih Timnas.
Namun, masyarakat netizen dan bahkan media asal Belanda kemudian ramai‑ramai membantah kuat kabar tersebut, dengan menyebut bahwa kehadiran Van Gaal di Indonesia bukanlah skenario yang realistis.

Dari sisi federasi, meskipun belum ada pernyataan publik terperinci soal alasan resmi menolak atau tidak melanjutkan proses perekrutan, sinyal kuat muncul bahwa pihak federasi — yakni PSSI — harus menyiapkan plan B lebih cepat. Waktu pun terasa mendesak, mengingat agenda kompetisi internasional semakin dekat dan Timnas memerlukan kepastian arsitek tim untuk persiapan. Beberapa pengamat menilai bahwa keterlambatan dalam pengumuman pelatih bisa berdampak pada kondisi kesiapan tim.

Di balik kabar ini, muncul dua hal penting yang perlu dicermati: pertama, reputasi Van Gaal memang sangat tinggi, namun rekam jejaknya juga tak luput dari catatan kritis—termasuk saat ia gagal membawa Belanda lolos ke Piala Dunia 2002.

Kedua, skenario penunjukan pelatih asing besar‑nama membawa risiko: dari aspek adaptasi budaya, iklim sepak bola Asia, hingga tantangan komunikasi dengan pemain dan staf lokal.

Sejumlah tokoh sepak bola Indonesia pun memberi tanggapan. Beberapa mendukung langkah cepat pencarian pengganti, agar tak ada kekosongan kepelatihan yang berkepanjangan. Yang lainnya mengingatkan bahwa selain nama besar, yang dibutuhkan adalah pelatih yang “siap turun tangan dari hari pertama”, memahami mental pemain Indonesia, dan bersedia berkomitmen jangka menengah hingga panjang.

Dengan demikian, meskipun nama Louis van Gaal telah menimbulkan harapan dan antisipasi besar, pada akhirnya jalan menuju kursi kepelatihan Timnas Indonesia tetap terbuka dan dinamis—masih banyak kandidat dan faktor yang harus dibicarakan dalam waktu dekat.

Ketua Banggar DPR Sarankan: Evaluasi Menteri Wajib Pakai KPI, Hindari Subjektivitas dan ‘Kinerja Kamuflatif’

Jakarta – Wacana reshuffle kabinet yang sempat dilontarkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto mendapat respons dari Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah. Meskipun menegaskan bahwa pergantian menteri adalah hak prerogatif mutlak Presiden, Said Abdullah mendesak agar proses evaluasi kinerja para pembantu Presiden harus dilakukan secara objektif dan terukur.

Politisi senior PDI Perjuangan ini secara spesifik mendorong penggunaan instrumen Key Performance Indicator (KPI) atau Indikator Kinerja Utama yang jelas dan realistis sebagai acuan penilaian.

“Presiden memiliki Kantor Staf Presiden, Sekretariat Kabinet, bahkan staf khusus di berbagai bidang. Organisasi teknis ini seharusnya dapat menyusun KPI yang terperinci. Dengan begitu, ukuran evaluasinya jelas, tidak subjektif, sehingga yang mengevaluasi dan yang dievaluasi sama-sama punya pegangan yang adil,” ujar Said, Minggu (19/10/2025).

Menurut Said, sistem evaluasi berbasis KPI sangat krusial untuk mencegah penilaian yang bersifat sepihak dan menghindari munculnya ‘kinerja kamuflatif’, yaitu kinerja yang terkesan baik di hadapan publik namun minim dampak struktural atau realisasi program nyata.

“Masyarakat menanti perubahan nyata, bukan sekadar popularitas di media. Kinerja yang hanya bagus di publik tapi tidak berdampak secara struktural itulah yang saya sebut kinerja kamuflatif. Ini harus dihindari,” tegasnya.

Ia menyarankan agar KPI mencakup berbagai aspek, mulai dari target program, dukungan organisasi, alokasi anggaran, hingga tenggat waktu pencapaian, dan dilaporkan secara berkala, misalnya setiap enam bulan. Dengan transparansi berbasis indikator ini, Said meyakini bahwa reshuffle kabinet tidak akan memicu polemik karena setiap menteri telah memahami ukuran keberhasilannya.